Simple Love Story #1

Kalau saja semua remaja telah memiliki handphone sejak SMP,mungkin ceritanya akan lain ya. Tapi aku tetap bersyukur karena bisa diberi kesempatan untuk merasakan dampak majunya alat komunikasi. Sekalipun itu hanya berupa fitur text messaging atau sms.

Sejatinya aku sudah mengenalmu sejak masih kelas 1 SMP. Tapi hanya sekedar kenal,tau sebagai teman sekelas. Tau namamu dan sosokmu,selesai. Tidak pernah saling berbicara/bercakap. Murni hanya teman sekelas.

Begitu pula hingga kelas 2 dan 3 SMA yang notabene kita sekelas lagi. Kali ini ada peningkatan skala perhatian. Maksudnya aku lebih ngeh mengenai keberadaanmu. Mulai tahu kamu itu orangnya gimana. Tapi ya cuma sebatas tahu dari orang-orang. Kamu pendiam. Udah titik.

Begitu lulus SMA, ya seperti biasa saja semua siswa berpencar menuju kampus idamannya. Aku ke Jogja menuntut ilmu di perguruan tinggi yang katanya bergengsi. Begitu juga kamu, yang ketika itu kuketahui masuk ke institut teknik di Surabaya. That’s all.

Selanjutnya? Ya sudah nothing special.. Hidup seperti biasa. Masuk kuliah.. berorganisasi… hidup ala mahasiswa rantau.. Yaa kecuali mungkin dibumbui beberapa cerita romantika masa muda lah.. err..banyak pengalaman mendewasakan yang berkesan juga sih tapi bukan itu yang ingin kuceritakan.

..

Di Jogja aku kenal dengan teman kos bernama Nadia (kangen nih,gimana kabarmu sekarang?). Ia cantik ala cewek Bogor. Kuliahnya di jurusan teknik industri di kampus yang sama denganku. Ia punya banyak cerita dan pengalaman yang sempat dibagikan padaku dan akupun berbagi dengannya (sebelum akhirnya aku pindah kamar dan jarang ketemu lagi..). Dan..ah mungkin memang dari sini juga titik awal makin meningkatnya skala perhatianku padamu.

Melalui Nadia, untuk pertama kalinya aku sms kamu (well,kini jelas sudah siapa yang pertama kali sms!!). Tujuannya nggak aneh-aneh sii. Cuma nanyain tentang pacarnya Nadia yang ternyata sekampus-sejurusan denganmu (atau jangan-jangan sebenarnya itu cuma alam bawah sadarku saja yang emang modus pingin sms? Entah). Nggak ingat juga bagaimana aku bisa tahu nomor hp mu. Mungkin dari buku kenangan alumni SMA.mungkin. Dan tidak terlalu berharap dibalas juga sih secara jaman itu anak-anak lagi doyan ganti-ganti nomer hp. Tapi ternyata kamu membalas. Yaa nggak jauh-jauh juga lah yang dibahas juga tentang pacarnya Nadia itu.hehe.. Dan setelah beberapa kali sms,setelah cerita tentang LDRannya Nadia usai,ya sudah nggak ada komunikasi lagi di antara kita. Hidup terus berjalan..

..

Tahun 20xx (lupa),saat itu pas pulang kampung. Dalam rangka libur lebaran kalau nggak salah atau entah apa lupa. Aku dan alumni teman sekelasku di SMA (termasuk kamu) ziarah ke makam almarhumah teman kita yang wafat beberapa tahun lalu. Di sana aku bertemu denganmu. Ada sedikit perbedaan kali ini dengan penampilanmu. Sekilas kamu tampak lebih modis. Gaya rambutmu yang agak panjang membuatmu terkesan imut. Dan sepertinya kamu semakin tinggi. Hoho…

Waktu itu (berkat pergaulan dan didikan kampus) aku sudah mulai mencoba untuk tidak bersalaman dengan lawan jenis (nggak bertahan lama juga siii..hadeh). Sehingga pas salaman dengan teman-teman di sana, aku malah diledekin ,”Opo’o , dadi koyok xxx (kamu) saiki?” Ha?maksudnya? Hm.. walau rada nggak nyambung tapi itu cukup membuat skala perhatianku padamu nambah lagi. haha..dasar anak muda.

..

Masih bersama teman-teman alumni SMA, kami sempat berkunjung ke rumah wali kelas kami di kelas tiga. Dan disana bertemu kamu lagi. Dengan penampilan yang makin berbeda juga sepertinya. Nggak tahu kenapa aku suka kalau rambutmu agak panjang seperti itu. Tapi tetep,nggak ada pembicaraan apapun diantara kita..

..

Yang ketiga, masih bersama teman-teman alumni (eksis juga yahh. Senang dengan kebersamaan kalian!), kami main-main ke salah satu tempat wisata alam di kampung kami. Air Terjun Madakaripura. Kalau diinget-inget liburan itu atas inisiatifku juga. Maksudnya yang ajak pertama tuh aku dengan maksud mau sampling herpetofauna (survey lokasi rencananya untuk seminar,tapi nggak jadi.hehe). Dengan bantuan beberapa orang,berhasil dikumpulkan orang-orang yang mau ikutan. Sekalian jalan-jalan tentunya.

Well,ini adalah batu loncatan terakhir yang mengawali bertambahnya skala perhatianku padanya. Ya, kamu juga ikut ke Madakaripura. memakai kaus biru berkerah,celana jeans,jaket abu-abu. Dan sebenernya sama siih, nggak ada yang terlalu spesial. Tapi satuu yang masih segar dalam ingatanku,di sana sempat kudengar kamu berbicara,yang entah kenapa membuatku rada gimana gitu.

Hehe..jangan salah sangka dulu ya. Yang kamu katakan saat itu adalah

“Ngapain sih nyari-nyari kodok”

(aku memang berburu amfibi waktu itu.heheee).

“Ooo iya ya kamu kan Biologi”.

Herrrr… biasa aja kan sebenernya?

Tapi yang terlintas dalam pikiranku saat itu justru rasa penasaran. Penasaran ingin diskusi banyak tentang dunia biologi yang kamu komentari itu. Entah gimana aku merasa yakin diskusi denganmu akan sangat berbeda ketimbang dengan orang lain yang kadang tidak memahami esensi diskusi yang kulemparkan.

Tapi saat itu aku cuma senyum diam aja. Masih sibuk ngurus katak (lupa nama spesiesnya,kata mas Toni sih spesies itu sebelumnya cuma diketahui ada di jawa barat aja) plus jaim juga. Hoho…begitu saja dan hidup kembali berjalan,kembali ke kampus..

Tapi hidupku berubah sejak saat itu.. seperti melompat dari keramaian yang bising menuju pegunungan yang sejuk (halah perumpamaan apa ini??).

..

Kira-kira dua bulan kemudian.. ,aku ingat itu September.. dan selanjutnya mungkin bulan September menjadi bulan ceria untuk kita, suasana Idul Fifri. Aku lagi-lagi pulang kampung, mudik. Saat itu aku telah menempati rumah kontrakan baru.

Beradaptasi dengan lingkungan baru,aku yang sedang tiduran di kamar adikku (masih takut sendirian di kamar baru), iseng mengirim sms lebaran kepada teman-teman. Salah satunya adalah untukmu,iya kamu. Dan ini adalah sms kedua sejak pertama sms dulu yang kuceritakan di awal. Dan lagi-lagi sama sekali nggak terlalu berharap akan dibalas karena mana kutahu kalau nomormu ganti?

Eh tapi memang nomormu ganti sih. Aku tahu karena tidak ada laporan delivery smsnya. Ah dasar mungkin memang jalannya begini,nggak tahu angin apa yang membuatku bertanya kepada teman-teman tentang nomormu yang baru. Ngebet banget. Sampai hampir putus asa karena nggak ada yang tahu. Nggak eksis banget sih kamu??

Tapi akhirnya kucoba kirim ke semua kemungkinan nomor yang dikasih padaku. Sent ke salah satu nomor. Harap-harap cemas.

Dan dirimu membalas.

Perlu kuberitahu senangnya waktu membaca balasanmu? Soalnya aku nggak bisa menggambarkan seperti apa. Mungkin rasanya seperti dikasih pintu ke mana saja sama doraemon.

..

Berhenti sampai di sini?

Kalau iya maka cerita berakhir di sini.
Sehingga jawabannya pasti tidak. Sms tidak berhenti sampai -sama sama yaa, mohon maaf lahir batin- seperti kalau sms ke orang-orang kebanyakan. Tidak.

Lagi-lagi nggak tahu awalnya membahas apa,kita malah smsan terus. Aku bertanya kamu menjawab. Kamu menjelaskan,aku menyanggah. Dari A sampai AZ. Dari tentang biologi hingga sejarah. Begitu teruus hingga larut malam.

Udah sampai malam itu aja?

Lagi-lagi pasti jawabannya tidak.

..

Mungkin cuma kehabisan pulsa dan lowbatt yang mampu menghentikan aktivitas handphone kita. Yang dibahas juga merambah kemana-mana. Puas rasanya, rasa penasaranku sejak di Madakaripura dulu terjawab sudah. Dan tepat seperti dugaanku, senang sekali berdiskusi denganmu. Kamu bisa mengimbangi hampir semua yang kukatakan. Bahkan sampai aku kembali ke Jogja kita masih tetap berkirim sms, menemaniku saat perjalanan 10jam di kereta api. Sampai setengah berharap bisa bertemu juga di kereta itu.

Makin lama sering ngobrol (via sms) denganmu, membuatku makin mengenalmu. Lewat sms saja memang, jadi yang kukenal darimu adalah cara berpikirmu, pandangan hidupmu, keinginan terpendammu, yah hal hal yang bisa kuketahui melalui jalur seluler saja sebenarnya.

Aku memang suka orang yang berwawasan luas. Orang yang berwawasan luas,selama ia tidak sok tahu,pasti akan bisa nyambung ngobrol denganku. Soalnya aku sering sekali melemparkan pertanyaan-pertanyaan random seperti,”Eh menurutmu apa kemiripan jamur dan manusia?”. Lalu bergantitopik, membahas sejarah dunia, evolusi, kemudian sampai pada global warming. Kalau nggak berwawasan luas mungkin udah males nanggepin itu semua. Bosen juga.

Tapi berbicara denganmu nggak ada bosannya. Malah bikin candu untukku. Dan kamu sendiri selalu menanggapiku. Senang rasanya kalau setiap perkataan kita selalu dihargai. Iya kan?

..

Sesekali pernah juga kamu tidak membalas smsku. Kamu sibuk dengan perkuliahan dan organisasi. Itu baru kamu sampaikan saat akhirnya membalasku. Tapi andai kau tau, tiada respon darimu bagaikan dijepit tembok berpaku,halah.. maksudnya aku jadi merasa seperti kehilangan sesuatu yang memang tidak bisa kulihat,dan rasanya seperti tertusuk benda tajam. Hampa, dan sedikit menyakitkan. Kenapa sampai seperti ini? Harusnya kan aku tahu bahwa kamu memang punya duniamu di sana. Dan sehari hari bukan hanya ada kita yang asyik ngobrol kan?

Sekali dua kali aku masih baik saja. Tapi semua berubah sejak negara api menyerang. Eh.. semua berbeda setelah berkali-kali kamu sering tidak membalasku.

Aku menyadari bahwa sepertinya dirimu telah menguasai pikiranku. Ada perasaan khusus padamu. Dan aku tidak akan menyangkalnya.

Aku sempat takut saat itu. Takut akan banyak hal. Aku tidak ingin mengganggumu dengan semua ketakutanku itu. Jangan sampai kamu tahu bahwa sepertinya ada perasaan khusus padamu. Yang aku tahu dirimu adalah sosok yang cukup “dilihat” dan disegani di lingkunganmu, jadi aku pun berusaha supaya tidak sedikitpun mengganggumu.


Hari berlalu..

Kita masih sesekali berkirim sms. Cuma mungkin sudah terasa agak nggak mengalir karena aku berusaha menahan diri.

Masalahnya sejak itu aku pun jadi mulai kepo. Segala macam informasi tentangmu,nyari-nyari di facebook, buku alumni, bahkan searching di google kujabanin demi ingin mengenal profilmu lebih banyak.

Nggak penting kliatannya,tapi aku senang. Seperti bisa lebih dekat denganmu.

Sampai suatu saat, dan aku masih lupa awal mulanya, kamu mengirim sms berkata hal yang membingungkan :

“Sepertinya kamu sedikit menjurus. Lebih baik tidak diteruskan. Bye”

(kira-kira seperti ini).

See? dengan situasiku yang rada galau tentangmu, ucapan itu terasa menyedihkan bagiku. Seolah kamu telah mengetahui isi hatiku dan kemana arah pembicaraanku akhir-akhir ini dan kemudian kamu menghindar.

Waw..sinetron banget,soalnya aku cuma menduga-duga. Tidak tahu maksud sebenarnya dari ucapanmu itu. Dan aku pun tidak mau bertanya lebih jauh padamu. Jadi cukuplah begini,kalau toh dugaanku salah toh kamu pasti akan menghubungiku lagi.

Dan mulai lah hari-hari kegalauanku makin memuncak. Berharap sepenuhnya dugaanku salah dan menunggu sms darimu. Tidak ada dering sms. Setiap hari mengecek layar hp adalah rutinitasku. Tidak ada yang terjadi. Hampir putus asa,aku sudah memasrahkan diri dan berdoa semoga selalu diberikan yang terbaik.

Sampai suatu ketika ada sms masuk. Aku menyambutnya biasa saja. Tapi itu ternyata kamu,iya kamu. Menanyakanku, kemana saja kok lama tidak sms. Bahkan kamu bertanya apakah aku mulai bosan.

Ahh… pingin tahu bagaimana perasaanku waktu itu? Masih akan tetap kujawab dengan hal yang sama, yakni : aku tidak bisa menggambarkannya. Baiklah, mungkin seperti,err…habis kelaparan berhari hari lalu dikasih rendang yang nggak pedes bikinan mamaku. You’ve got it? Bayangkan apapun yang indah-indah deh,dan kira-kira seperti itulah yang kurasakan.

Dengan demikian,lepas dari apapun dugaanku,ternyata kamu masih mau menghubungiku.. Apakah sebenarnya kamu juga memiliki perasaan padaku? Ah aku tak ingin berharap banyak. Takut kecewa.

Yang penting hubungan kita lebih baik semenjak itu. Aku pun tidak terlalu memusingkan apa kamu akan membalas sms ku atau tidak. Biarkan saja mengalir.

Sampai suatu ketika,sebenarnya aku setengah iseng,tapi harap-harap cemas juga. Ingin tahu bagaimana responmu. Di satu sms yang kukirim padamu, di bagian akhir, aku tulis:

P.s.: I love you

Sent.

Hwahhh…langsung merasa bodoh. Ngapain sih kirim kayak gitu? Norak banget dah. Pingin bunuh diri ya?
Tapi sudah terlanjur…

Kutunggu sms balasanmu.

Agak lama juga… mulai cemas…tapi sudah sangat pasrah…

Notifikasi sms berbunyi di hapeku. Tit tut tit..ala Nokia.

Masih ingatkah smsmu itu? Sini coba kuingatkan. Jadi sms balasan dari mu tertulis :

..
“Aku baru bisa menikahimu sekitar 2,3 atau 4 tahun lagi. Mungkin baru 3 tahun lagi.

Apa kamu keberatan?”

Udah nggak usah nanya apa yang kupikirkan dan yang kurasakan saat itu ya. Percuma nggak akan kujawab. Kujawab pun paling cuma satu kata : bahagia.

Pingin loncat dari gedung kedokteran deh.

Senyum senyum sendiri.

Nyetel musik keras keras,ikutan nyanyi.

Kegilaan mendadak.

..
Belum kubalas smsmu. Bingung mau ngomong apa….

#bersambung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s