Review : Rumah Di Tepi Kanal

rumah di tepi kanal

Judul Buku : Rumah Di Tepi Kanal
Pengarang : Agatha Christie
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : 2002 (cetakan kedua)
Tebal : 310 halaman

Pasangan suami istri Tommy dan Tuppence Beresford yang sudah hampir memasuki usia pensiunnya di era pertengahan abad 20, lagi-lagi dihadapkan pada suatu kasus yang aneh. Semua itu bermula dari kecurigaan Tuppence kepada seorang wanita tua di Rumah Jompo Sunny Ridge, serta ketertarikannya pada lukisan tentang rumah di tepi kanal. Berikutnya Tuppence malah mengira Mrs. Lancaster, wanita tua itu, sedang dalam bahaya karena nenek itu tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Akhirnya dengan jiwa detektifnya, Tuppence berusaha mencarinya hanya dengan modal petunjuk dari lukisan rumah di tepi kanal itu. Hingga sampai di suatu desa kecil lah kemudian Tuppence menemukan rumah yang menjadi inspirasi lukisan rumah di tepi kanal. Di desa itu pula Tuppence mulai mendengar desas desus mengenai pembunuhan-pembunuhan yang pernah terjadi di masa lalu. Tetapi setelah Tuppence mulai mendapatkan petunjuk, tiba-tiba ia dipukul dari belakang hingga pingsan. Tommy, suaminya yang khawatir karena istrinya tak pulang-pulang, akhirnya tergerak untuk mencari tahu keanehan yang terjadi, sekaligus mencari tahu keberadaan istrinya. Setelah mereka berdua berhasil bertemu dan mengusut kembali keanehan-keanehan itu, akhirnya jelaslah apa sesungguhnya yang terjadi selama ini. Tommy dan Tuppence pun tak mengira bahwa temuan mereka sungguh berbeda dari apa yang mereka bayangkan pada mulanya. Seperti dalam kutipan ini :

Rasa takut menyelusup dalam hatinya – rasa takut yang sama yang pernah ia rasakan di Sunny Ridge.
“Apakah itu anakmu?”
Itu merupakan peringatan pertama, tapi ia salah mengerti. Ia tidak tahu bahwa itu adalah peringatan.
(hal. 302)

,,,–,,,

Rumah di Tepi Kanal adalah buku keempat dari kisah pasangan Beresford buah karya Agatha Christie. Kisah pasangan suami istri detektif ini selalu saja menarik dan mendebarkan. Penggambaran karakter suami istri itu sejak kemunculan pertamanya dalam “Musuh dalam Selimut” semakin kuat hingga buku keempat ini. Bagaimana tidak, ia sudah menceritakan kisah mereka berdua sejak masih lajang hingga usia senja. Kesan bahwa Tuppence, yang memiliki rasa ingin tahu sangat kuat, serta Tommy yang selalu melindungi istrinya akan selalu terlihat di tiap lembar-lembar buku ini.
Poin plus lagi, seperti halnya cerita-cerita misteri lainnya, kisah buku ini berakhir dengan hasil yang tak terduga. Pembaca pasti terkaget-kaget karena tak mengira bila kisahnya akan seperti itu. Walaupun demikian, kadang seperti buku-buku lainnya, Agatha selalu kurang lihai dalam membuat plot penyelesaian. Tiba-tiba saja Tommy dan Tuppence seperti seolah-olah sudah tahu segalanya atau tiba-tiba saja sudah bab akhir. Pembaca yang mungkin tidak sepintar pasangan Beresford mungkin malah bingung, kok bisa begitu ya?
Yang terakhir, cover buku bertema misteri cetakan kedua ini agak mengerikan dengan gambar boneka tanpa rambut yang retak dan salah satu matanya hilang. Namun itu justru menarik dan menambah kesan misterinya.

Rate : 4/5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s