Tak Kenal (Sejarah), Maka Tak Sayang (Bangsa)

Saat saya kerja sambilan di suatu lembaga bimbingan belajar, saya sempat berbincang-bincang dengan beberapa anak-anak SMP dan SMA di sana. Saya bertanya apa yang akan mereka lakukan nanti setelah menyelesaikan pendidikan. Jawabannya beragam, ada yang sama dan ada yang unik. Dua anak SMA dari jurusan IPA serempak menjawab, mau menjadi dokter! Tiga anak lainnya menjawab ingin jadi PNS. Dua anak SMP kebingungan, merasa tidak tahu ingin menjadi apa. Satu anak laki-laki menjawab ingin menjadi ahli pesawat.

Ketika saya tanya mengapa ingin menjadi dokter pada dua anak pertama, mereka menjawab supaya jadi orang kaya. Tiga anak yang ingin menjadi PNS menjawab karena disuruh orang tua. Anak SMP yang kebingungan diam saja, sedangkan si anak yang ingin jadi ahli pesawat mengatakan karena ia memang suka fisika. Lalu saya tanya lagi pada mereka, dengan jawaban kalian itu, kira-kira harapannya apa terhadap Negara? Dalam hati saya pikir mereka akan berharap Indonesia bisa lebih maju dan menjadi lebih baik dengan profesi yang mereka pilih itu. Tapi ternyata tidak, sambil menggerutu mereka malah mejawab, mudah-mudahan pemerintah mau memberi beasiswa yang lebih banyak, mudah-mudahan Negara memberi fasilitas yang bagus, mudah-mudahan jumlah lowongan PNS diperbanyak, dan jawaban lain semacamnya.

Mungkin memang terlalu dini untuk langsung menuduh anak-anak tersebut tidak peduli dengan negaranya. Tapi bagi saya, jawaban-jawaban seperti itu sedikit banyak sudah mengindikasikan bahwa mereka kurang merasa memiliki bangsa dan negaranya. Buktinya anak-anak itu lebih berharap Negara bisa memberikan sesuatu untuk mereka daripada berharap bisa melakukan sesuatu untuk Negara. Orang yang merasa memiliki sesuatu, pasti akan melakukan apapun agar sesuatu itu tetap lestari dan menjadi lebih baik. Kalau anda punya boneka misalnya, anda pasti tidak ingin boneka itu cepat rusak kan? Begitu juga dengan berbangsa dan bernegara. Kalau sejak kecil sudah tidak dibiasakan untuk merasa memiliki negaranya, bagaimana mungkin di masa depan ia akan mau menjaga dan memajukan negaranya?

Bagaimana dengan anak-anak lainnya? Bagaimana pula dengan anak-anak zaman sekarang yang sudah dikelilingi dengan komputer, tablet, ponsel, game, serta berkutat dengan novel-novel Twillight, film Hollywood, musik Korea, dan joget Gangnam Style? Sekarang saya masih tinggal di kota kecil, tapi saya tahu tidak hanya anak kota besar yang bisa berjoget Gangnam Style dan tergila-gila dengan boyband Suju. Apakah pernah terpikir oleh anak-anak tersebut bahwa kemerdekaan mereka untuk menikmati boyband-boyband itu telah dibayar mahal oleh darah dan keringat para pejuang masa lalu bahkan juga di masa kini?

Ah, sekali lagi, mungkin memang terlalu jauh bagi saya untuk mempertanyakan itu pada anak-anak tersebut. Anak-anak adalah anak-anak, tentu saja mereka akan lebih memilih melakukan suatu hal yang menyenangkan. Dan menonton konser boyband atau film Hollywood jelas merupakan sesuatu yang menyenangkan kan?

Saya sendiri agak lupa kapan saya mulai peduli dengan kebangsaan, kewarganegaraan, ke-Pancasilaan, dan sebagainya. Saat masih SD, bahkan mungkin sampai SMA, tidak terpikir sedikitpun dalam diri saya untuk mau tahu urusan bangsa dan negara. Menonton acara berita di televisi pun paling-paling cuma saya lakukan semata-mata untuk memenuhi tugas sekolah. Selebihnya saya lebih tertarik untuk membaca buku cerita dan komik.

Walaupun demikian saya masih ingat bahwa saya sejak dulu sangat suka pelajaran sejarah. Saya suka membaca di buku teks sekolah tentang kerajaan-kerajaan yang pernah ada di Indonesia dan tentang sejarah lainnya. Oh iya, saya tinggal di kota kecil. Tidak ada bioskop, tidak ada toko buku juga. Acara televisi saat itu juga paling-paling sinetron kolosal semacam Wiro Sableng saja yang saya suka. Sehingga bagi saya, membaca buku sejarah itu tidak jauh berbeda dengan membaca novel, cerpen, dan kisah lainnya karena penuh dengan cerita-cerita menarik. Hanya dengan berangkat dari situlah saya merasa lebih mengenal bangsa saya, Negara saya, tanah tumpah darah saya. Dan dengan begitu saya lebih merasa memiliki Negara saya.

Nah, dengan pengalaman saya itu, izinkan saya memberikan saran bahwa tidak ada salahnya bagi generasi muda sekarang untuk membuka-buka lagi sejarah bangsa Indonesia. Malas? Saya yakin 80 % pelajar Indonesia pasti langsung mengantuk begitu membuka buku sejarah di halaman pertama. Soalnya saya sendiri kadang juga begitu. Tapi coba bacalah tentang “kisah” proklamasi kemerdekaan, bayangkan anda sedang berada di sana saat kejadian berlangsung, maka anda akan bisa membayangkan peristiwa tersebut sejelas menonton film Hollywood di bioskop. Bayangkan saja seolah buku pelajaran sejarah itu adalah buku novel. Bagus lagi kalau sering-sering menonton film-film bertema sejarah Indonesia (yang sekarang sudah makin banyak).

Jadi, ada banyak jalan untuk belajar sejarah, dan itu tugas penting bagi para pendidik. Pendidik bisa berarti siapa saja. Bisa guru di sekolah, guru les, kakak yang sedang membantu mengerjakan PR, dan tentu saja orang tua. Tidak perlu sampai 24 jam terus-menerus berkutat dengan sejarah, sedikit-sedikit saja asal bisa menggugah minat. Apalagi sekarang sudah zaman internet, tidak sulit untuk mengakses situs-situs yang yang membahas sejarah dengan lebih interaktif. Belum lagi maraknya jejaring sosial dan forum dunia maya yang akan membantu diskusi.

Yakinlah, hanya dengan hal kecil seperti belajar sejarah itu, sedikit demi sedikit rasa memiliki anak terhadap bangsa dan negaranya akan semakin besar. Dengan mengenali Indonesia dan sejarahnya, akan semakin sayang pada Indonesia. Seperti kata pepatah : Tak kenal maka tak sayang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s