Berharap Pada PLN ? Ah, Buat Apa…

Harapan saya pada PLN? Kayaknya nggak ada. Sejak dahulu saya baik-baik saja dengan PLN. Tidak ada kata “marahan”, yang iya malah “pengertian”. Wajar saja sih, dahulu yang saya maksud ya saat saya masih kecil, masih SD atau SMP mungkin. Listrik mati saat siang begitu terik, sudah biasa. Lampu padam saat mengerjakan PR di malam hari, juga sudah biasa. Tidak ada yang special. Saya mungkin cuma bergumam, “Ah, sudah biasa…”. Berharap banyak? Ah buat apa…

Memasuki masa SMA, sama saja. Tidak ada yang berubah. Listrik tiba-tiba mati, ya sudah cari lilin saja. Kipas angin padam, ya sudah pakai koran bekas saja. Mau bagaimana lagi? Ah, tapi ada kemajuan walau cuma panggil-panggil tetangga depan rumah. Mereka punya saudara yang bekerja di PLN kota kami. Begitu listrik padam, biasanya (setelah ditelpon beberapa warga) mereka langung “curhat” pada saudaranya itu. Dan entah bagaimana prosesnya, beberapa saat kemudian listrik hidup lagi. Kata orang-orang sih, bisa cepat-cepat dicari penyebab padamnya gitu. Tapi toh saat itu saya menganggapnya, ah sudah biasa di sini.. Mau mengharap apa lagi? Berharap ayah bisa bekerja di PLN? Ah buat apa..

Saat menjadi mahasiswa perguruan tinggi di Yogyakarta, saya juga tidak punya “perasaan” apa-apa pada PLN. Eh tapi sempat simpatik juga sih, karena frekuensi listrik padam di sana lebih jarang daripada di kampung halaman saya. Apalagi di kampus hampir bisa dibilang tidak pernah ada sejarah mati lampu. Tapi beberapa saat kemudian akhirnya saya tahu itu karena di kampus menggunakan generator. Ah lagi-lagi saya pikir, ya sudah biasa saja… Mengharap kos-kosan pakai generator? Ah mana mungkin…

Saat saya pindah kos, di kamar kos yang baru saya mulai punya sedikit “perasaan” pada PLN. Perasaan itu timbul saat saya mulai sibuk dengan karya ilmiah dan tugas skripsi. Pada masa-masa seperti itu tentu hidup saya sangat bergantung pada laptop (pribadi), printer (rental), dan koneksi internet (warnet). Entahlah mungkin karena takdir atau bagaimana, justru saat-saat genting seperti itu PLN seolah memusuhi saya. Dalam sebulan bisa berkali-kali mati listrik. Bayangkan itu berarti berkali-kali pula saya tidak bisa mengerjakan skripsi. Parahnya lagi, entah mengapa “kematian” listrik itu sering terjadi saat saya pulang dari kampus dan saat akhir pekan. Padahal kan kalau kampus masih buka saya masih bisa hidupkan laptop (yang baterainya cuma tahan 1jam) memakai listrik kampus, gratis internet pula. Namun di saat galau seperti itu pula, saya pun masih bersikukuh menganggap, ah sudah biasa, mau bagaimana lagi… Berharap kampus buka 24 jam? Ah tidur dulu saja…

Setelah lulus dan kembali ke kampung halaman, saya cukup bahagia karena tak perlu bayar listrik kos lagi (yang dihitung per jumlah dan jenis perabot). Kebetulan saat itu keluarga saya sudah pindah ke rumah kontrakan yang baru. Rumah ini kebetulan dekat dengan rumah dinas walikota setempat. Di sini saya kembali “tergugah” perasaannya kepada PLN. Lucu juga sih, karena saat teman-teman saya se-kota serentak mengeluh di jejaring sosial bahwa listrik padam, rumah saya dan di sekitar saya tenang-tenang saja menonton sinetron di televisi. Apakah karena dekat dengan pak Wali? Ah seperti ini pasti sudah biasa… begitu pikirku. Kalau boleh, berharapnya ya sekalian saja listrik padam saat malam hari, biar rumah kami terang sementara se-kota gelap. Hehe..

Tak dinyana, makin lama perasaan saya pada PLN makin bertambah. Entahlah, hal membingungkan makin sering terjadi. Suatu kali listrik di daerah rumah mati. Anehnya, yang mati cuma rumah saya dan tetangga depan rumah saya. Makin lama makin sering saja seperti itu. Saya pikir cuma karena korsleting saja, tapi ternyata tidak. Kalau malam hari lucu, sekitaran terang benderang, tapi rumah kami gelap gulita. Ayah saya pernah komplain ke PLN, tapi mereka bilang, “Ditunggu saja pak, nanti juga nyala.” Lalu suatu hari terjadi lagi seperti itu, tapi kali ini cuma rumah saya yang mati,, tetangga depan saya nyala. Usut punya usut, ternyata lagi lagi tetangga saya itu juga punya saudara di PLN, sehingga mereka pun meminta jalur listrik mereka dipindah (atau diapakan gitu, saya nggak ngerti). Saat itu, saya pun menggumam, “Ah sudah biasa..” sekaligus berharap, “Besok-besok saya akan cari suami karyawan PLN saja..”

7 thoughts on “Berharap Pada PLN ? Ah, Buat Apa…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s