Animoprhs #2 : Aksi Penyelamatan (review)

 

Judul Buku :  Animorphs #2  : Aksi Penyelamatan
Pengarang : K.A.Applegate
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : 1998, cetakan pertama
Tebal buku : 163 hal + 10 hal bonus

Terbang menukik dari ketinggian satu kilometer sudah membuatku gelisah. Dan sekarang kami meluncur dari tempat yang jauh lebih rendah, dan mengarah tepat ke pohon-pohon. Aku bukan cuma gelisah, tapi benar-benar panik. Dengan mata elangku yang tajam, batang-batang pohon di bawah tampak jelas. Jangankan batang pohon, semut yang merayap di kulit pohon pun kelihatan. Pohon-pohon itu seolah berada tepat di depan mataku (Rachel-Animorphs #2 hal.13)

Lima remaja berjuang melawan alien-alien bernama kaum Yeerk yang bermaksud menguasai bumi dan seisinya. Mereka yang menamakan dirinya Animorphs itu adalah Rachel, Tobias, Jake, Marco, dan Cassie. Keistimewaan yang mereka miliki adalah kemampuan untuk berubah bentuk menjadi hewan apapun yang ada di bumi (animal morph). Kemampuan itu didapatkan dari kaum Andalite, bangsa alien lain yang bertugas menumpas kaum Yeerk di jagad raya. Di buku ke-2 ini, misi Animorphs adalah memata-matai Mr. Chapman yang merupakan kaki tangan Visser Three, pemimpin kaum Yeerk di Bumi. Mr. Chapman sendiri sebelum dikuasai oleh kaum Yeerk adalah guru matematika mereka. Melissa, anak Mr Chapman yang dulu adalah sahabat dekat Rachel, digunakan sebagai sarana untuk mendekati Mr. Chapman. Dengan berubah menjadi Fluffy Mc Kitty, kucing kesayangan Melissa, Rachel dan anggota Animorphs lain pun berhasil masuk serta mendapatkan informasi penting mengenai cara untuk melawan kaum Yeerk.

K.A. Applegate memang tidak tanggung-tanggung dalam menulis novel seri bertema petualangan ini. Selain memang dirinya pecinta hewan, ia juga melakukan riset khusus mengenai dunia hewan dan segala perilakunya. Ia paham betul bagaimana karakter suatu hewan dan ia mampu menuangkannya dalam tulisan agar bisa dipahami dari pemikiran manusia. Apalagi sudut pandang yang digunakan adalah orang pertama pelaku utama. Tidak heran pembaca buku ini seolah bisa benar-benar merasa “menjadi hewan”.

Aku melesat. Satu meter tegak lurus ke atas, padahal sebagai kucing tinggi badanku cuma tiga puluh senti. Untuk ukuran manusia, itu sama saja dengan melompat ke atas gedung berlantai dua. Dan itu belum apa-apa. Aku lompat cuma karena ingin lompat. Aku ingin mendarat pada balok kayu selebar lima senti, dan tentu saja tidak ada masalah.
Dibandingkan kucing, pesenam terbaik yang pernah ada pun tetap berkesan serba kikuk dan canggung.
(Rachel-Animorphs #2 hal.81)

Di buku ini, kita akan menjadi Rachel yang pada kisah tertentu akan berubah menjadi elang yang bebas, cecurut yang selalu merasa takut, dan kucing yang sangat percaya diri. Uniknya, di buku Animorphs seri lainnya kita tidak lagi berada di posisi Rachel namun dari sisi Tobias, Jake, Marco, maupun Cassie. Dengan cara itu, pembaca yang telah menamatkan seri ini dapat memahami karakter tiap anggota Animorphs secara mendalam.

Bila beberapa tokoh-tokoh dalam seri Harry Potter terinspirasi dari The Lord of The Rings, maka dalam Animorphs hampir setali tiga uang. Nama-nama bangsa alien seperti Yeerk, Andalite, dan lainnya yang memang terdengar asing, sesungguhnya juga terinspirasi dari The Lord of The Rings. Beberapa nama yang ada di kisah legendaris itu dimodifikasi hingga terciptalah nama-nama “aneh” dalam seri Animorphs ini. Tentu saja nama-nama tersebut menambah daftar panjang nama-nama makhluk aneh di antara buku-buku cerita zaman sekarang :p .

Cover depan buku edisi pertama ini memperlihatkan Rachel yang berubah perlahan menjadi kucing. Namun untuk versi baru (belum tahu di Indonesia ada atau tidak), ilustrasinya jadi agak lebih futuristik. Satu hal yang menarik, di pojok kanan bawah di setiap halaman kanan juga terdapat gambar kecil. Gambar tersebut berbeda-beda, mulai dari gambar Rachel dalam wujud manusia, dan perlahan-lahan seiring bertambahnya jumlah halaman, gambar Rachel pun menjelma menjadi kucing. Ini cukup menarik terutama bila kita buka halamannya dengan cepat, seperti melihat animasi dalam bentuk 2 Dimensi.😀

Bagi orang yang sudah bosan dengan kisah-kisah petualangan, apalagi bergaya superhero ala barat (yang baik mengalahkan yang jahat, bla bla bla dan sebagainya yang cukup klise), mungkin tidak akan terlalu suka dengan novel ini. Namun bagi pecinta hewan, novel ini patut dicoba. Lebih menarik lagi bila terus mengikuti serinya yang sampai puluhan itu hingga tamat🙂.

Rate : 4/5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s