Perseteruan yang Mengerikan!

Aku akui, aku memang sering merasa kebingungan. Aku tidak tahu kepada siapa aku harus mendukung, ayah atau ibu. Keduanya sama-sama berusaha untuk mempengaruhi aku dan saudara-saudaraku, agar kami memdukung salah satu di antara mereka. Aku baru menyadari jika aku telah tumbuh dewasa dalam sebuah rumah yang dipenuhi dengan berbagai macam problem dan teriakan keras.

Pada satu pihak, ayah berusahan melawan ibu yang berupaya menguasai untuk mengatur ayah dan juga mengatur kami. Ibu benar-benar telah melakukan segala pekerjaan yang semestinya menjadi tugas kepala rumah tangga, dan sekaligus segala keputusan dalam berkeluarga. Sementara ayah, peranannya terbatas hanya sebagai pemberi suplay nafkah dan membentak.

Ketika aku mencoba meneliti sebab-sebab dari semua permasalahan abadi itu, dimana seolah tidaktampak secercah cahaya harapan untuk sebuah solusi walaupun sedikit, aku menemukan bahwa sebab utama dari permasalahan itu adalah ketidakserasian antara ayah dan ibu. Terdapat sebuah perseteruan yang mengerikan di antara mereka berdua sejak dari awalnya. Selain itu, tata cara kehidupan yang mereka jalani berbeda dalam mewujudkan sebuah impian dan cita-cita. Dan aku berjanji tidak akan menikah dengan lelaki yang berbeda dengan diriku dalam segala hal. Ini bukan berarti aku menginginkan lelaki yang harus sama persis dengan diriku, sehingga ketika melihatnya aku seolah melihat diriku sendiri di cermin. Sudah tentu ini adalah anggapan yang salah, jauh sekali dari nilai-nilai kebenaran. Keserupaan yang berlebih-lebihan terkadang juga dapat menghantarkan pasangan suami isteri pada suatu kondisi yang sangat menjemukan. Tapi ini juga bukan berarti seseorang harus menerima pasangan hidupnya yang mempunyai sifat sangat kontradiksi dengan dirinya. Jika sampai seperti itu, kehidupannya sudah pasti hanya akan menjadi episode-episode peperangan yang akan terus berlanjut. Sehingga dirinya sendiri, pasangannya, dan anak-anaknya harus membayar mahal dengan menanggung segala dampak negatifnya. Dan, dia juga tidak akan bisa menghindar –untuk selamanya- dari segala dampak negative itu. Sehingga kemudian, setiap anggota keluarga akan bersandar pada apa yang mereka lihat. Mereka berprasangka bahwa yang dilihatnya adalah satu-satunya kebenaran. Padahal, sebenarnya satu kebenaran mutlak itu tidak dapat dijumpai pada manusia. Akan tetapi, di sana hanya ada kebenaran yang masih bisa menerima sebuah kesalahan, dan kesalahan yang masih bisa menerima sebuah kebenaran. Seperti inilah yang pernah aku pelajari dalam mata kuliah filsafat, dimana aku juga telah mengambil spesialisasi dalam bidang itu. Sudah tentu, pelajaran filsafat ini sangat bermanfaat besar sekali bagiku dalam memahami dimensi-dimensi peristiwa yang telah aku jalani. Dan filsafat ini juga yang telah mendorong diriku untuk berusaha meminimalisir dampak negative dari peristiwa buruk itu terhadap diriku sendiri pada awalnya, kemudian saudar-saudaraku, ayahku, dan juga ibuku.

Diantara dampak dari perseteruan orang tua kami, kakak perempuanku sangat takut untuk menikah. Aku mengerahkan segenap kemampuanku untuk menasehati kakak perempuanku, hingga akhirnya aku mampu menenangkan dirinya. Kesalahan tidak pada pernikahan itu sendiri tapi dalam memilih calon suami. Tanpa mengurangi rasa penghormatan kami kepada ayah dan ibu, tidak diragukan lagi, ayah atau ibu memang telah salah pilih pasangan hidup yang cocok bagi mereka. Akhirnya, kakak perempuanku bersedia untuk menerima lamaran seorang pemuda yang sangat baik. Akan tetapi, yang terpenting adalah, pemuda itu sesuai dengan karakteristik dan perilaku kakak perempuanku dalam mengarungi kehidupan ini. Kami berdoa kepada Allah, semoga pemuda itu dalam memberikan kebahagiaan kepada kakak perempuanku. Sementara kami masih berusaha mencari jalan-jalan menuju kebahagiaan itu. Hingga kemudian kami tenangkan diri kami. Dan Allah akan menunjukkan kepada kami jalan menuju kebahagiaan.

Adapun ayah dan ibu, dalam segala urusan mereka berada pada dua sisi yang yang berlawanan. Ayah selalu merasa bangga dengan kehidupannya yang penuh dengan kesederhanaan seperti saat di desa. Bagaimana dia membina dirinya, dan memberikan contoh sebagai sosok pria desa yang sukses. Dia telah membuat sebuah rencana untuk kesuksesan dirinya di dunia. Kemudian dia berjalan sesuai rencana itu dengan penuh kehati-hatian. Dia tidak pernah putus asa, bahkan dia selalu bersabar dan rela berkorban, sampai akhirnya kesuksesan besar dapat dicapainya. Kemudian dia menjadi salah seorang milyuner yang sangat terpandang dalam bisnisnya. Bahkan dia telah menjadi salah seorang pejabat penting pada level internasional, tidak hanya pada level nasional saja.

Sementara pada satu sisi yang lain, ibu adalah sosok orang yang selalu membanggakan diri dengan kecantikannya yang memikat, darah bangsawan, dan keturunan keluarga ningrat. Memang, keluarga ibu termasuk keluarga terhormat yang terkenal dan paling terpandang, sehingga ibu juga merasa punya hak untuk mendapatkan semua penghormatan itu. Selamanya ibu tidak pernah mengaku-aku sesuatu yang tidak sesuai dengan realita kehidupannya. Ibu kemudian menceritakan kisah-kisah besar tentang istana milik orangtuanya yang dipenuhi dengan para dayang. Dia membuka cerita dengan menggambarkan secara detail tentang tiang-tiang istana beserta permata yang menghiasinya. Selanjutnya, ibu bercerita tentang pengunjung istana yang sebagian besar adalah para pejabat penting Negara. Ibu juga menunjukkan kepada kami foto album kenangan milik keluarganya. Sungguh, dalam album itu tampak sisa-sisa keagungan dan kebesaran keluarga ibu beserta istananya.

Seberapa besarpun kemampuan manusia dalam berkhayal, sudah tentu hayalan itu terbatas hanya pada penglihatan mereka terhadap kedua orang tuanya dalam kehidupan sehari-hari mereka; sampai batas maksimal mereka dapat berkumpul dengan kedua orang tua mereka. Ibu selalu melarang gaya berbicara dan cara makan ayah. Bahkan, ibu sering mencela ketika ayah tidak memakai pakaian tradisional saat di rumah. Sedangkan ayahku yang baik, dia balik menuduh dengan mengatakan bahwa ibu masih terbawa adat zaman dulu. Berulang kali ayah mengatakan, untung ayah masih bersedia merawat pakaian itu dan tidak membuangnya, karena pakaian itu sudah termasuk barang langka. Tapi pada suatu hari, memang ayah pernah berpikir untuk menghadiahkan pakaian itu pada sebuah museum.

Hingga kemudian, berkobarlah api pertempuran yang tidak akan dapat dipadamlan, kecuali ketika kami sudah turut campur untuk melerai perang mereka, sebelum peperangan itu berakhir dengan perkara yang tidak diinginkan. Kami merasa sangat senang sekali ketika peperangan itu berakhir menjadi perang dingin. Kami berdoa kepada Allah, semoga perang dingin ini terus berlanjut lama. Karena ia seperti halnya gencatan senjata di antara kedua belah pihak, selain juga seperti rahmat Tuhan kepada kami, dimana kami tidak mendengarkan perang mulut yang saling bergantian menuduh antara satu dengan yang lain.

Ibu masih selalu membiasakan diri –dari waktu ke waktu- untuk memaksakan pendapat-pendapatnya kapada ayah. Adapun alas an ibu, bahwa dia merasa lebih banyak mengetahui tentang tata cara kehidupan yang mulia, dimana ayah sama sekali tidak mengetahuinya karena dulu hidup dalam kesederhanaan. Sementara ayah sering banyak mengalah untuk menghindari berbagai persoalan. Bahkan demi pekerjaannya agar tidak terbengkalai, sebagaimana ini pernah diutarakan ayah kepada kami akhir-akhir ini. Dari waktu ke-waktu, ayah tetap melakukan perlawanan dan menyakiti ibu dengan ucapannya. “Jangan lupa ya, sebelum pernikahan, engkau sudah mengetahui keluargaku yang sederhana dengan baik. Tapi engkau membutakan mata karena ketamakanmu yang ingin menguasai harta kekayaanku. Harta yang aku peroleh dengan cucuran keringatku dan kehormatanku juga.” Ibu lalu menangis, dia merasa benar-benar telah melakukan kesalahan besar dalam kehidupannya. Dia telah memilih seorang suami yang tidak memiliki perasaan, dan tidak pandai dalam berinteraksi dengan isterinya.Kembali kami turut campur dalam urusan mereka. Kami benar-benar telah banyak merasakan kebosanan dan kepedihan.

Aku berusaha untuk mengambil sifat-sifat positif yang dimiliki oleh kedua orangtuaku. Tapi pada suatu sisi yang lain, aku juga membuang jauh-jauh segala sifat negative mereka. Sudah tentu, dari ibu aku bisa belajar tentang perasaan yang sensitive dalam berpakaian, berbicara dan tata cara makan. Sementara dari ayah, aku dapat mengambil sifat penyabar, senang untuk mengukir prestasi, dan masih merasa belum puas dengan sebuah keberhasilan. Aku meninggalkan jauh-jauh sifat sombong terhadap orang lain, seperti yang sering dilakukan ibu. Atau, sifat sederhana yang terlalu berlebihan seperti yang kadang dilakukan ayah. Aku sangat menentang sifat itu.

Aku bisa merasakan, seolah ayah melakukan itu dengan sengaja untuk memancing kemarahan dan emosi ibu. Ini adalah perilaku salah, bila ditinjau dari sisi psikologis. Ketika tindak sewenang-wenang telah kita jalani, berupa kegemaran memancing kemarahan yang lain, maka kita dapat melihat bahwa diri kita telah melakukan tindakan bodoh. Kita telah berbuat buruk kepada diri kita sendiri sebelum kita berbuat buruk kepada orang lain.

Bukankah aku telah mengatakan, bahwa aku bingung dan juga letih. Aku telah memikul tanggung jawab meminimalisir dampak-dampak negative yang muncul secara psikologis sehingga tidak akan berpengaruh pada saudara-saudaraku, akibat perseteruan ayah dan ibu. Sungguh, betapa berat sekali tanggung jawab ini!

Diambil dari La Tahzan for Girls : agar kamu para cewek tidak takut hadapi masa depan. Oleh Najla Mahfuzh. 2007. Mirqat Publishing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s