(review) Endless Night

Judul Buku : Endless Night – Malam Tanpa Akhir (terj)
Pengarang : Agatha Christie
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2002
Jml hal dan dimensi : 284 hal, 10x18x1 cm

“Setiap malam, setiap pagi
Ada yang terlahir ‘tuk kesedihan
Setiap pagi dan setiap malam
Ada yang terlahir ‘tuk kebahagiaan
Ada yang terlahir ‘tuk malam tanpa akhir..”
(Endless Night-Malam Tanpa Akhir, hal 158)

Endless night-Malam tanpa akhir, adalah salah satu novel Agatha Christie yang pernah difilmkan pada tahun 70-an. Seperti beberapa judul lainnya, novel ini tidak berkaitan dengan detektif-detektif seperti Poirot, Miss Marple, maupun pasangan Beresford yang biasanya bertugas memecahkan suatu kasus. Walaupun dibumbui kisah-kisah roman pada masa itu, novel fiksi ini tetap tidak meninggalkan genre misteri seperti halnya karangan Agatha Christie yang lain.

Cerita ditulis dari sudut pandang Michael Rogers (Mike), seorang pemuda usia 20-tahunan yang kalem, tampan, tapi sangat ambisius, dan flamboyan. Suatu hari di Inggris, Ia melihat suatu area yang disebut Gypsy’s Acre. Mike langsung jatuh cinta pada tempat tersebut, dan bercita-cita untuk membuat rumah yang megah dan indah di sana. Ia pun mulai berkhayal setelah membuat rumah, ia akan mencari seorang gadis yang cantik untuk menemaninya tinggal di rumah itu sebagai istri. Saat itulah kemudian Mike bertemu dan berkenalan dengan seorang gadis bernama Fenella Guteman (Ellie), seorang gadis kaya dari Amerika yang manis dan lugu. Mereka berdua pun saling jatuh cinta dan berikrar untuk menikah. Berkat kekayaan Ellie, mereka pun akhirnya mampu membeli tanah di Gypsy’s Acre seperti yang diinginkan Mike. Impian Mike selanjutnya pun dibantu oleh kenalannya, Santonix- seorang arsitek, dengan membangun rumah yang indah di Gypsy’s Acre.

Awal mula pernikahan mereka berlalu dengan indah dan romantis. Namun tak berapa lama, muncul kejadian-kejadian aneh dan terkesan mistis di Gypsy’s Acre. Kehidupan harmonis pasangan muda tersebut pun terusik, ditambah dengan hadirnya Greta, asisten pribadi Ellie, yang membuat mereka semakin tidak nyaman. Kejadian-kejadian mistis itu pun akhirnya sampai merenggut nyawa Ellie. Sampai pada cerita ini, pembaca akan merasa digiring pada suatu kesimpulan bahwa Greta-lah penyebab kematian Ellie. Namun sebagaimana novel misteri lainnya, kisah ditutup dengan fakta bahwa ada sosok lain, lebih jahat dan kejam, yang diam-diam merupakan dalang utama dari kejadian-kejadian tersebut.

Tidak bisa dipungkiri bahwa Agatha Christie memang penulis yang piawai membuat karakter-karakter dalam ceritanya. Dalam novel ini, Agatha mampu memberikan penggambaran yang cukup nyata mengenai karakter Mike, Ellie, bahkan tokoh-tokoh lainnya. Selain itu, ending kisah ini cukup sulit ditebak dan mengejutkan, dan ini memang merupakan salah satu kelebihan Agatha sebagai penulis cerita misteri. Terjemahan dari novelnya yang berbahasa Inggris juga ditulis dengan bahasa yang cukup mudah dimengerti. Walaupun novel misteri, pembaca tidak akan sulit mengikuti setiap teka-teki yang disuguhkan.

Sampai kalimat yang terakhir ini, saya belum menemukan kekurangan yang terlalu berarti dari buku ini. Mungkin satu-satunya kritik saya adalah pemilihan gambar sampul depan (terbitan tahun 2002) yang kurang menarik dan agak terkesan membosankan. Namun secara keseluruhan, novel ini cocok dibaca bagi yang menyukai kisah-kisah roman dan misteri.

Rating : 4,5/5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s