(review) The Secret Supper


Judul buku : The Secret Supper
Pengarang : Javier Sierra
tahun terbit : 2007
penerbit : Serambi
Profil buku : tebal 528 hal, dimensi 25 x 12,2 x 1,8 cm

Melihat judul dan gambar sampul novel ini, hampir pasti yang akan terpikirkan adalah, “Wah, setipe Da Vinci Code nih.” Saya katakan hipotesis itu 99 % persen benar, dan 1 % nya terbukti setelah membaca buku ini. Tak bisa dipungkiri, sejak booming novel serta film The Da Vinci Code (oleh Dan Brown), makin populer pula buku-buku dan novel yang dibuat dengan tema bahkan alur yang mirip dengan novel fiksi legendaris tersebut. Termasuk juga novel berjudul “The Secret Supper” ini.

Berbeda dengan Da Vinci Code, novel fiksi bergenre thriller historis ini mengambil latar kota Milan di zaman renaissance, sekitar tahun 1500an, sezaman dengan masa hidup seniman legendaris, Leonardo da Vinci. Cerita dimulai oleh bab singkat yang menceritakan “sang peziarah” (yang kemudian diketahui terlibat di balik kejadian-kejadian yang terjadi berikutnya) dengan sudut pandang orang pertama, sedang berada di sebuah gereja di Milan. Diceritakan bahwa ia sedang mengamat-amati lukisan berjudul “Maesta” dan menyadari bahwa ada sesuatu yang janggal dari lukisan itu. Bab singkat ini ditutup dengan kedatangan seseorang yang mengatakan bahwa lukisan itu adalah tanda pengkhianatan, dan akan datang “Sang Peramal” yang akan menghabisi nyawa orang jahat.

Cerita kemudian beralih pada seorang Inkuisitor gereja bernama Agustino Leyre yang ditugaskan untuk menguak misteri dari secarik kertas bertuliskan puisi penuh kode. Kertas tersebut pada mulanya dikirim dari sosok yang disebut “Sang Peramal”, yang tidak diketahui identitasnya, dan diduga berencana melakukan kejahatan di lingkungan gereja Santa Maria delle Grazie. Upaya pemecahan kode oleh Agustino tersebut kemudian justru membawanya kepada petualangan berikutnya bersama seniman besar kala itu : Leonardo da Vinci. Bersama Leonardo, ia mulai mencari rahasia-rahasia di balik lukisan “The Last Supper” yang sedang dikerjakan Leonardo. Serangkaian peristiwa menegangkan juga terjadi seiring dengan terkuaknya satu demi satu rahasia tersebut.

Javier Sierra, penulis berkebangsaan Spanyol yang membuat novel ini, sepertinya memang mengkhususkan diri untuk membuat buku-buku dengan latar Eropa abad pertengahan. Pengetahuannya mengenai Eropa jaman dulu terlihat cukup mendalam. Banyak nama-nama dan peristiwa yang digunakan pada buku ini (seperti nama bangsawan Medici serta kejadian yang berkaitan dalam keluarga itu) adalah tokoh yang benar-benar hidup di zamannya. Bagi penyuka sejarah Eropa, mungkin akan tertarik dengan kesan historis yang ingin digambarkan oleh penulis. Sayangnya terjemahannya agak sulit dipahami. Bahasa/istilah asing dan tidak umum sangat jarang dijelaskan sehingga bagi orang yang tidak familiar dengan bahasa latin akan sering dibuat bingung. Selain itu, banyak cerita dalam dunia kekristenan yang mungkin juga tidak dijelaskan dengan baik. Tidak semua orang terutama di Indonesia tahu menahu tentang kisah hidup 12 murid Yesus seperti yang dituliskan pada novel ini. Hal ini menyulitkan pembaca dan mungkin seringkali harus berhenti membaca sejenak dan mencari-cari siapa dan bagaimanakah kisah orang-orang yang dimaksud.

Walaupun demikian, novel yang mendapatkan penghargaan Premio de Novela Ciudad de Torrevieja tahun 2004 ini saya nilai tetap berhasil menyuguhkan “warna” yang berbeda dengan novel The Da Vinci Code. Pemilihan latar pada abad pertengahan dan munculnya Leonardo sebagai tokoh aktif dan cukup sentral memberikan sudut pandang yang cukup menarik. Saya belum membaca versi bahasa Inggris atau aslinya (Spanyol), namun berdasarkan opini yang masuk di beberapa forum maya, terjemahan novel ini dianggap tidak terlalu “keras” dalam mengkritisi agama. Mungkin karena penerjemahnya adalah seorang lulusan seminari sehingga bahasa yang terlalu frontal sengaja diperhalus tanpa meninggalkan esensi dari buku ini. Yang paling penting adalah untuk membaca novel ini, sebaiknya disertai juga dengan wawasan yang lebih luas serta rasa ingin tahu yang tak terbatas.

Rating : 3/5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s