(review) : Ramashita, Legenda Masa Depan

Judul Buku : Ramashita, Legenda Masa Depan

Ilustrasi : Yan Mintaraga

Penerbit : PT Gramedia

Produksi : Dunia Fantasi

Tahun terbit : 1994

Modern, seksi, namun klasik. Tiga kata itulah yang akan terlintas dalam pikiran setelah membaca komik ilustratif ini. Dengan secuil cerita dari buku kuno yang legendaris, Ramayana oleh Empu Walmiki, komik ini dibuat seringkas mungkin untuk menceritakan kisah kesetiaan wanita pada suaminya. Wanita itu adalah Shita, istri dari Ramawijaya. Rama adalah putra mahkota kerajaan Ayodyapala yang tampan, kuat, dan ahli bertarung. Shita sendiri adalah wanita yang terkenal cantik dan diduga merupakan titisan seorang dewi bernama Dewi Widawati.

Alkisah, karena suatu hal, Rama harus menjalani pembuangan di hutan Dandaka. Selama masa pembuangannya, Rama di ditemani oleh istrinya, Shita, dan Laksamana, adik Rama. Di hutan inilah cobaan terjadi, Shita diculik oleh Rahwana, raja kerajaan Alengka yang sakti dan dikabarkan tidak bisa mati. Dengan bantuan kera putih yang sakti bernama Hanoman, Rama pun berhasil mendapatkan kembali Shita dari tangan Rahwana. Namun cerita tidak berhenti di sini. Shita, yang sudah sepuluh tahun ditawan oleh Rahwana, masih harus membuktikan kesuciannya kepada Rama. Di sini lah kesetiaan Shita sebagai seorang istri diuji. Bagaimanakah cara Shita untuk membuktikan kesetiaannya?

Kisah klasik dalam pewayangan yang penuh makna ini benar-benar sukses digambarkan oleh Yan Mintaraga dengan cukup jelas dan ringkas. Apalagi dengan pemilihan latar waktu masa depan, kisah ini jadi terlihat tidak jadul. Jangan bayangkan kerajaan Ayodyapala dan Alengka penuh dengan candi. Alih-alih candi, kedua kerajaan itu digambarkan sebagai kota masa depan yang sangat modern, dengan gedung-gedung tinggi beraksen futuristik berwarna coklat metalik. Belum lagi senjata-senjata yang dipakai, bukan keris atau godam yang ada tapi justru semacam senjata laser dengan laras panjang (walaupun diceritakan bahwa untuk mendapatkannya harus dengan bersemadi :p). Dari sisi ini, Mintaraga mampu memberi gambaran yang berbeda dari kisah Ramayana yang sudah umum, namun tetap tidak meninggalkan kesan klasik ceritanya.

Cover depan komik ini lebih mirip cover komik atau film superhero amerika jaman dulu dengan aksen futuristik. Mungkin karena dulu memang sudah jamannya komik-komik hero macam spiderman sedangkan komik jepang belum terlalu booming di Indonesia. Sesuai dengan kebiasaan dari karya Yan Mintaraga, gambar-gambar wanita di komik ini dibuat cukup seksi dan sensual. Hal ini agak kurang cocok apalagi bila komik ini sebenarnya ditujukan untuk pembaca dari kalangan anak-anak. Beberapa adegan juga masih banyak yang menyisakan tanda tanya dan nggak jelas maksudnya apa. Contoh keanehannya adalah mengapa Laksamana harus ikut-ikut Rama dibuang di hutan?, siapakah Hanoman kok tiba-tiba muncul begitu saja?, dan ketidakjelasan yang lain.

Lepas dari beberapa kekurangannya, saya tetap menilai komik ini patut dibaca. Apalagi bagi yang ingin tahu kisah Ramayana sambil santai makan kacang, cocoklah untuk ditemani oleh komik ini. Hanya satu yang saya sarankan, jangan beli/cari buku ini di toko-toko buku, kemungkinan nggak akan ketemu karena sepertinya sudah tidak terbit lagi. Carilah di toko buku antik atau malah di toko buku bekas.😀

Rate : 4/5

Note : 1. komik ini diproduksi oleh Dufan dan arenanya memang ada di dufan sebelum akhirnya mengalami kebakaran. 2. Penawaran terakhir yang dicek di toko online, buku ini berharga 100rb

p.s. : bila teman-teman ingin memiliki buku ini, silakan kirim email ke ampheea@yahoo.com (hanya dalam bentuk e-book)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s