Ngobrol dengan bapak ibu kos

Beberapa waktu yang lalu saya ke jogja lagi setelah 3 bulan pulang pasca wisuda. Tentunya saya menyempatkan diri untuk beramah tamah ke mantan bakan dan ibu kos saya saat masih kuliah dulu (disamping saya memang numpang tidur di kos itu lagi, hehe). Yah namanya lama tak jumpa, tentu mereka langsung banyak bertanya terutama tentang saya. Kira-kira seperti ini :

Ibu kos : Bagaimana kabarnya mbak?

saya : baik bu, ini saya ke jogja dalam rangka tes

Ibu kos : tes dimana mbak? saya : Wa***h bu, perusahaan kosmetik

Ibu kos : itu mbak *** yang dulu di sini itu sudah diterima di Wa***h, kalo mbak **** diterima di L****l

Bapak kos : mbak N**** itu sebelum lulus juga sudah diterima di Freeport lo mbak tapi sama orang tuanya nggak boleh. Trus katanya juga diterima di SGM, tapi nggak diambil karena nggak cocok katanya

saya : wah iya sayang ya pak

Ibu kos : kalau mbak novi sekarang gimana mbak?udah daftar dimana ?

saya : wah saya belum terlalu fokus, baru daftar ECC UGM baru-baru ini bu soalnya kemarin2 saya masih sibuk ngajar di bimbel karena mau ujian

ibu kos : oh dengan kata lain ada penghasilan sedikit ya mbak

saya : (nyengir)

Bapak kos : apa jangan-jangan dilamar?

saya : hehe belum pak

Bapak kos : sebenarnya nggak usah sekolah tinggi-tinggi aja kalau perempuan

Ibu kos : yo nggak pak harus membahagiakan ibuknya dulu ya to mbak novi? jadi istri juga ntar harus bekerja, jangan kayak saya, ijazah saya nggak kepake itu

saya : hehe iya bu

Bapak kos : lha saya juga punya ijazah S1 tapi nggak kerja, duduk2 aja paling sesekali bersih2 rumah, uang tinggal mengalir

saya : hehe iya pak, saya pamit dulu ya pak mau ke tempat temen, keburu nggak dapat bis

 

Baiklah, apa yang ingin saya gosipkan kali ini? Hehe, saya paling cuma mau menyimpulkan beberapa hal bahwa sepertinya : 1. Saya adalah orang yang tidak suka ditanyai macam-macam tentang kehidupan dan aktivitas sehari-hari, apalagi kalau lagi pengangguran kaya gini (hihi..ni kayaknya semua orang juga gitu ya) 2. Ibu dan bapak kos sangat bangga karena beberapa anak-anak kosnya berhasil mendapatkan pekerjaan di perusahaan-perusahaan besar. 3. Ibu dan bapak kos masih memiliki pandangan yang hampir serupa dengan kebanyakan orang, bahwa sekolah itu perlunya supaya bisa bekerja, supaya membahagiakan orang tua, dan bahwa mereka sama-sama masih berorientasi pada gaji yang besar untuk mengukur kesuksesan seseorang. Itu saja mungkin yang ingin saya ceritakan, bila ada yang ingin berdiskusi lebih lanjut, monggo hubungi saya. hehe… ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s