Tentang Pendidikan bag 2: Hayoo, pilih IPA atau IPS?

Tulisan ini dibuat oleh seorang teman, beliau menitipkan  tulisan ini untuk disampaikan pada teman-teman

Lukisan pemandangan dengan dua gunung segitiga menjulang, matahari yang berada di antaranya tampak malu untuk menunjukkan wajahnya secara utuh. Sawah terhampar dengan tanaman berbentuk centang hijau di tiap petaknya. Jalan membelah hamparan sawah dengan tiang listrik yang terbaring. Affandi kecil sangat senang, ayahnya memuji lukisan hasil kerja keras Affandi selama dua jam. Bahkan ayah Affandi berniat mengikutkan anaknya lomba lukis pemandangan (ala doktrin guru TK masa orde baru, seperti deskripsi di atas) tingkat anak TK sekabupaten! Gara-gara apresiasi yang diberikan oleh ayahnya, Affandi membulatkan tekad menjadi pelukis terkenal di seluruh kabupaten.

Zaman pun berlalu, Affandi kini beranjak remaja. Sudah SMA. Dialog terjadi antara ayah dan anak.

Affandi : aku mau masuk IPS, aku suka sosial dan akan aku gambar dalam lukisan.

Ayah : APA?!! pokoknya kamu harus masuk penjurusan IPA, titik!

Affandi : tapi aku ingin jadi seniman sosial.

Ayah : Tidak boleh, seniman masa depan tidak jelas. Kamu harus masuk IPA biar bareng anak-anak pintar.

Affandi : Memang anak-anak IPS ga pintar?

Ayah : Jangan membantah, teman-temanmu pada pengen masuk IPA, jadi insinyur, dokter, ilmuwan, kamu malah jadi seniman!

Affandi : … Akhirnya Affandi dengan berat hati mengikuti keinginan ayahnya yang termakan gosip murahan tentang mitos bahwa anak-anak yang masuk kelas IPA jauh lebih pintar dan mempunyai masa depan jelas daripada anak-anak kelas IPS apalagi kelas bahasa.

— Sistem pendidikan di Indonesia sudah mengelompokkan program studi di SMA menjadi tiga klasifikasi : Kelas IPA, Kelas IPS dan Kelas Bahasa. Pada awalnya hal ini dilakukan untuk mengembangkan minat siswa yang berbeda-beda, namun karena mitos tolol yang berkembang akhirnya terjadilah fitnah yang menyakitkan, semua digiring untuk masuk penjurusan IPA tanpa kesadaran penuh dari siswanya. Akibat dari pada itu terjadilah opini publik yang menekan anak-anak SMA yang sedang berada pada usia kelabilan menjadi bingung, masuk IPS akan dicap “TIDAK PINTAR” dan “BUANGAN”, seolah-olah terjadi persaingan ketat untuk masuk ke kelas bergengsi yaitu “IPA”.

Kenapa sampai muncul stigma anak IPA = pintar ?

1. Mata pelajaran utama kelas IPA adalah matematika, biologi, fisika dan kimia. Kecenderungan umum yang berkembang adalah jika seorang anak tidak bisa atau terlambat menyerap pelajaran matematika di sekolah, maka anak itu dikategorikan bodoh, padahal kecerdasan matematis hanyalah salah satu 8 kecerdasan (menurut psikolog Harvard, Howard Garner) yang mungkin dimiliki oleh manusia. Artinya, jika seorang anak lemot dalam mengerjakan soal matematika, bisa jadi dia punya potensi besar dalam bidang lain, katakanlah musik, olahraga, pidato, menyanyi atau mungkin sekedar menjalin hubungan dengan banyak teman. Anggapan tidak bisa matematika = tidak pintar diperparah dengan mengidentikkan jenius = einstein = ahli fisika. Jenius itu bisa di berbagai bidang, tidak harus fisika! Bahkan Sule dan Tukul pun bisa dikatakan jenius dalam membuat orang tertawa.

2. IPA itu sulit dan menaklukkan hal sulit adalah hal yang membanggakan dan menaikkan gengsi. Oh my God, siapa yang menyelentingkan isu ini? IPA yang telah menjadi primadona bagi orang tua merupakan satu cara tersendiri untuk menaikkan gengsi orang tua terhadap rekan-rekannya. “Hey, anakku masuk IPA lho.” seorang ayah bisa dengan enteng jika ditanya tentang anaknya. Atau ibu-ibu yang akan berkata,”Lho, iya jeng, anaknya masuk IPA ya, pinter bener. Anak saya satu-satunya, cuma bisa maen gitar melulu, matematikanya 6, masuk IPS deh, aduh pusing entar mau jadi apa anak saya itu.” Maka banyak orang tua yang mencari les-lesan IPA bagi anak-anaknya yang dirasa bodoh dalam IPA. Berbondong-bondonglah siswa yang tertekan secara halus untuk bersaing masuk ke kelas IPA. Sementara yang tidak punya dana atau tidak punya lobi yang kuat terhadap guru, kadang dengan tulus ikhlas harus meratapi nasib masuk ke kelas IPS atau bahasa. Padahal, justru pelajaran IPA itu bisa jadi lebih mudah daripada pelajaran IPS bahkan bahasa sekalipun. Objek pelajaran IPA adalah pasti (makanya dinamakan ilmu pasti) dan ilmu yang sudah pasti harusnya tidak sulit dipahami karena variabelnya tetap. Katakanlah secara mudah dalam pelajaran fisika dinyatakan bahwa gaya gravitasi selalu menyebabkan benda jatuh ke arah inti bumi (ke arah bawah) dan sampai kapanpun mungkin ( kecuali Tuhan berkehendak lain) hukum gravitasi akan selalu begitu. Tapi beda dengan IPS, yang dipelajari adalah manusia, terutama kaitannya sebagai makhluk sosial, Dan siapa bisa menebak perasaan manusia? Satu manusia saja sifatnya bisa berubah-ubah apalagi ini yang dipelajari adalah sifat sosial populasi manusia. Jadi sulit tidak sulit adalah bergantung pada guru dan terutama si murid juga. Jika kecerdasan si murid adalah logis matematis, tentu mudah baginya mempelajari matematika, namun bagaimana jika kecerdasannya berada pada sisi seni suara?

3. Ada yang menganggap masuk IPA adalah rumus pasti untuk SUKSES, KAYA, BAHAGIA di masa depan. Siapa sih yang tidak tergiur menjadi ilmuwan, insinyur, dokter? Profesi -profesi itu menggambarkan dengan baik kemudahan mencari uang dengan tidak meniadakan gambaran tentang kecemerlangan otak. Ilmuwan itu pasti pintar, insinyur itu pasti jago matematika dan dokter pasti jago biologi. Lalu bagaimana dengan politisi yang berasal dari FAKULTAS ILMU SOSIAL POLITIK? Apakah mereka tidak pintar? Mereka pintar, jauh lebih pintar daripada ilmuwan yang merekayasa benda mati, maka politisi dan ahli ilmu sosial lainnya bukankah telah merekayasa perasaan banyak rakyat yang satu perasaan manusia saja sulit ditebak? — Baiklah, tidak ada niat memojokkan satu golongan tertentu, baik IPA, IPS, ataupun bahasa serta peminat doktrin mata pelajaran sekolah yang lain. Kebiasaan kita untuk mengkotak-kotakkan kemudian menaikkan pangkat satu kotak terhadap kotak yang lain perlu dikurangi. Saya suka geografi, jadi sebaiknya saya masuk IPA atau IPS? Geografi, materi mengenai kependudukan tentu adalah mata pelajaran sosial, namun materi cuaca, iklim adalah murni fisika. Atau saya peminat arkeologi, yang sebagian materinya adalah biologi dan sebagian yang lain adalah sejarah, jadi saya harus masuk IPA atau IPS? Semua bisa jadi pintar, semua bisa jadi hebat kalau rajin belajar. Tidak perlu membuat sentimen lagi tentang siapa yang lebih pintar, yang dapat nilai 100 dalam ulangan matematika atau siswa yang mengembalikan uang kembalian yang belebih meski sampai 100 ribu kelebihannya.

Semoga menjadi renungan bersama. Pelaku sistem pendidikan bukan hanya sekolah, guru, siswa atau menteri pendidikan, tapi juga orang tua, tukang becak, uztad, artis, selebriti hingga pemain sepakbola dan semua lapisan masyarakat yang sadar.

*ironisnya, meski saat SMA penjurusan kelas IPA lebih populer, lulusan sarjanaIndonesia justru banyak berasal dari fakultas sosial.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s