satu bulan ini saya mengajar

Sudah satu bulan ini saya bekerja sebagai tentor pada salah satu lembaga bimbingan belajar yang namanya sudah cukup terkenal, baik di kota saya maupun dalam skala nasional. Yah, beginilah, februari kemarin saya baru saja sah untuk menerima gelar S.Si., dan seperti tipikal lulusan baru lainnya, saya mulai berburu melamar-melamar pekerjaan. Perusahaan-perusahaan besar macam Parag*n, Gramed*a, perusahaan air minum, sampai area perbankan sudah saya masuki, tapi belum mendapatkan hasil. Nggak papa, seminggu setelah lulus saya iseng mendaftar tentor di lembaga bimbingan belajar yang saya sebut di atas, dan alhamdulillah setelah dites (sebenarnya saya sama sekali nggak bisa mengerjakan soal-soalnya, hahahaha) saya diterima. Jadi sembari mencari-cari pekerjaan yang “pendapatannya” oke, saya jabanin deh pekerjaan mengajar ini.

Memangnya pendapatannya kurang oke nop? Wah, ya begitulah. Saya di LBB tersebut diterima sebagai pengajar honorer, tidak bergaji tetap. Nominalnya mungkin tidak perlu saya sebut, tapi paling nggak buat beli pulsa tiap bulan bisa lah..daripada minta ortu, hehe. Dengan honor sekian, saya didaulat untuk mengajar biologi/IPA, dari SD hingga SMA.

Pada awalnya, dalam benak saya yang terbayangkan adalah saya harus mengajar di kantor di kelas-kelas yang sudah disediakan. Eh tapi ternyata, benar sih seperti itu, namun kenyataannya saya juga didaulat untuk datang ke beberapa SD/MI dan MTs di kota Probolinggo dan mengajar di sana. Memang tidak mengajar selayaknya guru sekolah sih, istilahnya saya hanya nge”les”i saja, dan hanya siang/sore hari. Namun itu sudah menjadi tantangan yang penuh warna bagi saya.

Tantangannya apa saja nop? Wah banyak, mulai dari saya yang memang kebingungan bagaimana caranya mengajar (karena background pendidikan saya memang bukan keguruan melainkan sains murni), kebingungan bagaimana mendiamkan anak-anak SD yang tidak bisa diam (baik mulut dan kakinya), dan kebingungan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang di luar dugaan dari anak-anak itu. Oh iya, satu lagi, kebingungan transportasi. Bocoran sedikit nih, saya tidak bisa mengendarai sepeda motor. Kalaupun saya bisa, sama saja tidak ada motor di rumah yang bisa saya kendarai. Bila didaulat si bos untuk mengajar di tempat yang jauh, jadilah saya kelabakan.

Tapi nggak papa, lepas dari kebingungan-kebingungan saya tersebut plus honor yang relatif tidak seberapa, saya cukup senang mengajar. Pada awalnya memang sulit, bahkan sampai mau nangis gara-gara ada anak yang terang-terangan bilang, “ndak mau, mbak iku ngajare ndak enak”, e buset dah ni anak… (__ __”).. Tapi saya tetap berusaha bertahan dengan beberapa alasan, 1: InsyaALLAH bila ikhlas bisa jadi amal yang tidak akan putus, 2:pengajar sebelumnya cuti, kalau bukan saya siapa lagi?, dan yang ke-3:jelas-jelas saya butuh pekerjaan, kalau tidak mengajar, mau ngapain nop?hehe…

2 thoughts on “satu bulan ini saya mengajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s