belajar itu sepanjang hayat

Belajar itu sepanjang hayat.
Pernyataan ini penting tapi sering tidak dipahami dengan baik oleh sebagian besar orang Indonesia. Saya ambil contoh adalah dari keluarga saya sendiri. Orang tua saya hampir selalu menyuruh adik laki-laki saya untuk belajar setiap hari setiap malam. Kalau adik saya tidak terlihat memegang buku, bisa dibilang orang tua saya akan menganggap adik saya tidak belajar. Kemudian hari esoknya, hasil belajar akan dilihat oleh orang tua saya melalui nilai ulangan sekolah. Seperti tadi siang, adik saya memperoleh nilai 9,3 untuk tes bahasa indonesia dan matematika, sedangkan IPA “hanya” mendapat nilai 8. Ibu saya kemudian berkata, “Wah sayang ya cuma dapat 8. Kok ternyata nilaimu jatuh di IPA le. Ayo besok harus bisa dapat nilai 10”. Well, begitulah. Saya tahu sikap orang tua saya seperti itu akan memotivasi untuk bisa menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. Tapi bila adik saya tidak diberi pemahaman yang lebih baik mengenai konsep belajar, saya khawatir ia akan terjebak dalam persepsi yang salah dan tidak memiliki tujuan belajar yang sesungguhnya. Saya khawatir adik saya menganggap belajar itu hanya soal ulangan, ujian, sekolah, kuliah, dan kerja. selesai. Atau memang kekhawatiran saya saja yang berlebihan?

Saya sejujurnya juga tidak berani untuk mendefinisikan “belajar sepanjang hayat”. Saya yakin persepsi orang bisa berbeda-beda dan mungkin ada yang mampu mendefinisikannya dengan lebih baik. Namun bagi saya, belajar sepanjang hayat berarti setiap detik kehidupan kita adalah sesuatu yang harus dipelajari. Anggaplah adik saya mungkin cuma belajar dalam artian membaca buku hanya selama 5 menit saja, itu pun karena disuruh-suruh oleh orang tua saya. Sepertinya memang terlihat sepele, tapi di balik itu semua, semestinya adik saya jadi “belajar” bahwa bila setiap hari membaca buku (pelajaran) walau cuma beberapa kalimat, atau berlatih soal setiap hari walau cuma 1 soal, atau “terpaksa” mengerjakan tugas setiap hari, justru akan membuatnya terbiasa untuk tidak bermalas-malasan dan selalu meluangkan waktu untuk tetap produktif. Hal-hal lain selain urusan akademik inilah yang sering luput dari pengertian “belajar” itu sendiri. Belajar mengatur waktu bermain, belajar disiplin, bahkan belajar untuk menahan diri bila dimarahi orang tua. Itu semua adalah belajar!

3 thoughts on “belajar itu sepanjang hayat

    • hehe..sekolah memang tempat yang paling menyenangkan. Sayangnya pelajar biasanya belum menyadari itu saat masih bersekolah😀

      salam

  1. belajar identik dengan sekolah.
    sekolah identik dengan murid dan guru.
    guru terbaik adalah pengalaman.
    pengalaman bisa didapat secara langsung atau dari sejarah.
    siapa malas belajar sejarah, dia rugi waktu karena harus trial error pengalaman yg harusnya dia dapat dari yg pernah mengalami.
    dan waktu adalah uang.
    uang adalah segalanya.
    tapi tidak segalanya bisa didapat dengan uang.
    mbulet. :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s