tentang pendidikan

by Novia Eka Wiandani on Wednesday, 27 April 2011 at 20:58

RHENALD KASALI *

*Thursday, 15 July 2010*

LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah

sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat. *

Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu

telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat,bagus

sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar

bahasa.

Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada

saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya

tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana. *

Saya memintanya memperbaiki kembali,sampai dia menyerah.

Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan

diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai?

Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberi

nilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri. Sewaktu saya

protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak

dari mana?”

“Dari Indonesia,” jawab saya. Dia pun tersenyum.*

*Budaya Menghukum *

Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya.

Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat.

“Saya mengerti,” jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap

simpatik itu. “Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang

anakanaknya dididik di sini,”lanjutnya. “Di negeri Anda, guru sangat sulit

memberi nilai.Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum,

melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement!” Dia pun

melanjutkan argumentasinya.

“Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbedabeda. Namun untuk anak

sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa

Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat,” ujarnya

menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya. Dari diskusi

itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi

orang lain menurut ukuran kita.

Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang

bergelimang nilai “A”, dari program master hingga doktor. Sementara di

Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman

drop out dan para penguji yang siap menerkam. Saat ujian program doktor

saya pun dapat melewatinya dengan mudah.

Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar

siap. Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji

bertanya dan penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu

memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan

grafikgrafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga

kami makin mengerti.

Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan

kekurangan penuh keterbukaan. Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal

sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong,

malah ikut “menelan” mahasiswanya yang duduk di bangku ujian. *

Etika seseorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan,

penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap

seakan-akan kebaikan itu ada udang di balik batunya. Saya sempat mengalami

frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang

maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi. Mereka bukan melakukan

encouragement, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga,

kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat

betul. Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga menguji

dengan cara menekan.

Ada semacam balas dendam dan kecurigaan. Saya ingat betul bagaimana

guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir pantaslah

anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat,

bahkan penerima Hadiah Nobel. Bukan karena mereka punya guru yang pintar

secara akademis, melainkan karakternya sangat kuat: karakter yang

membangun, bukan merusak. Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu

guru mengingatkan saya. “Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita

dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan,” ujarnya dengan penuh

kesungguhan.

Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam

bentuk verbal.

Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun

rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang

mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. “Sarah telah

memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun

Sarah telah menunjukkan kemajuan yang berarti.” Malam itu saya mendatangi

anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin

memeluknya di tengah-tengah rasa salah telah memberi penilaian yang tidak

objektif. Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent

(sempurna),tetapi saya mengatakan “gurunya salah”. Kini saya melihatnya

dengan kacamata yang berbeda.

*Melahirkan Kehebatan *

Bisakah kita mencetak orangorang hebat dengan cara menciptakan hambatan

dan rasa takut? Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk

oleh sejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik,

kapur, dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru,sundutan

rokok, dan seterusnya. Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata

ancaman: Awas…; Kalau,…; Nanti,…; dan tentu saja tulisan berwarna

merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah.

Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi

lebih disiplin. Namun di lain pihak dia juga bisa mematikan inisiatif dan

mengendurkan semangat. Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata

menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut

(mengecil) atau sebaliknya,dapat tumbuh.

Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang

didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian kecerdasan manusia

dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun. Seperti yang sering saya katakan,

ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh.*

Tetapi juga ada orang yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh.

Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan

ancaman atau ketakutan. Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan

menghina atau memberi ancaman yang menakut-nakuti. (*) *

*RHENALD KASALI *

*Ketua Program MM UI*

*http://www.seputar- indonesia. com/edisicetak/ content/view/ 338297/*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s