Sudah sore…

written by : Noltujusatuempatempat Bemz (2009)

“Eh ketemu lagi dengan mbak. Dari mana mbak?” tanyaku
“Walah, ini dari pasar mas, cari bahan – bahan buat masak. Gak jaga toko bunganya mas?”
“Ha, dalam seminggu, aku dapat hari libur Sabtu mbak.”
Sejenak kami berhenti, entah apa yang ada dalam pikirannya.
Pikiranku mencoba menebak kehidupan sehari – hari gadis di depanku ini. Kami kenal di toko bunga yang aku jaga. Kapan ya, aku sudah lupa, sudah sebulan yang lalu mungkin. Waktu itu dia sedang mencari bunga, tapi bunga yang dicari sulit sekali ditemukan. Lalu basa-basi yang cukup lama dan akhirnya dia memberikan namanya. Tidak ada yang istimewa, hanya perkenalan biasa.

Sejak awal, dia sudah mengesankanku dengan pengetahuannya yang luar biasa luas. Itupun masih ditambah dengan kacamata yang menghiasi wajahnya, pakaian rapi dan sederhana. Jelas, dengan penampilan seperti itu sangat terlihat dia adalah orang yang berpengetahuan akademis tingggi. Tentu saja hal itu juga terlihat saat berbincang denganku. Aku yang sok berpengetahuan luas sebagai tuntutan profesi sangat gelagapan saat dia mulai bertanya ini itu. Wah, tentu saja sebagai pria tentu saja harus menjawab sebisa mungkin dan tentu saja semakin memperlihatkan ketidakcakapan. Tapi dia seperti tidak peduli, dia terus saja bercerita, bertanya bahkan secara terang-terangan mengajakku berdebat. Modalku tentu pengetahuan ala kadarnya yang kuperoleh dari membaca koran bekas, majalah usang atau sekedar membaca buku yang kutemukan di laci meja tempatku bekerja. Pengetahuan ini tentu hanya cukup untuk bertahan saja tanpa mampu menyerang gagasan yang dilontarkannya. Sekali lagi, tidak ada yang istimewa…

“Mas ko diam?” suaranya membuyarkan lamunanku.
“ah gpp, biar jam dindingnya tertawa.” aku berkata sekenanya. Setelah mengernyitkan dahi sejenak, tanpa disangka ia berkata,”sekalian membisu lagi aja mas.” Dia tersenyum dan memandangku seolah berkata aku tahu apa yang kau pikirkan. Dan akupun tersenyum kagum kepadanya.
“Eh, wis ya, aku kudu mbalik disik.”katanya sambil melihat arloji di pergelangan tangan kirinya. Diapun berlalu tanpa aku sempat berkata. Dengan cepat ia menghilang di belokan gang.

Aku segera melangkah sambil menatap langit yang kemerahan, “ah sudah sore.”gumamku lirih…

2 thoughts on “Sudah sore…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s