Saat itu…

by Novia Eka Wiandani on Saturday, 22 May 2010 at 19:06

Kraksaan, Oktober 1997…

Saat itu aku masih berusia 9 tahun… Saat itu juga ku pertama kali menginjakkan kaki di tanah Kraksaan, tempat saudara-saudaraku dari garis keturunan nenek moyang mbah putriku banyak berada. Bahkan ku baru tahu kalau banyak sekali saudaraku yang berada di sana, juga membentang di Pajarakan hingga Paiton.

Saat itu, masih dalam heboh-hebohnya berita meninggalnya Lady Diana, aku tiba-tiba dijemput dari TPA tempatku mengaji dan diberitahu bahwa kita harus segera ke kraksaan karena mbah buyut (putri)q meninggal. Namanya juga anak kecil, ku mau saja ikut mereka. Walau ku agak sengit karena harus naik mobil sedan yang sangat kubenci.

Aku dijemput dan berangkat tanpa ibuku. Sesampai di rumah alm.mbah buyutq, ku hanya ditemani oleh saudara sepupuku Fifi. Padahal itu baru pertama kali ku kesana, jadi ku hanya luntang luntung ngikut aja. Dasar anak kecil, masih belum mengerti arti kematian, yang iya ku disana Cuma main-main plus berkenalan dengan keluarga yang lain. Termasuk dikenalkan pada seorang anak laki-laki seumuran yang rambutnya agak curly dan kulitnya putih. Dialah Rizki, atau dikenalkan padaku dengan nama Kiki..

Saat itu sore..aku dan Fifi habis mandi dan berganti baju. Ku mendengar ada sedikit gaduh di jendela. Setelah diperiksa Fifi (Fifi sekitar 1,5thn lbh tua dariku), ternyata ada dua orang anak laki-laki yang sepertinya ngintip di jendela. Mereka adalah Kiki dan temannya Angga. Wah aku sebel banget. Keributan itu masih berlanjut sampai besok dan sampai ku pulang ke Kota. Usut punya usut ternyata terjadi pencomblangan dengan cara yang tidak jelas antara kami berempat. Angga saat itu dipasangkan sama fifi (Cuma karena nama asli fifi = Anggie), dan aku dengan Kiki. Weleh…namanya juga anak kecil, malu lah aku..Antara sebel juga gitu, cz dy sukanya ngintip. Huh kadang digodain sama Fifi dan Angga, aku malah marah.

Selama 3 hari 2 malam ku di Kraksaan, lalu ku pulang. Tapi aku masih bisa mengingatnya dengan jelas, bahwa saat itu ku berpikir, akankah ku bisa bertemu Kiki lagi….?

Probolinggo, Hingga tahun 2009…

Aku tumbuh menjadi remaja, dan mulai beranjak dewasa. Begitu pula Kiki. Ternyata harapanku terkabul. Ku bisa bertemu dengannya lagi, walau hanya saat libur lebaran saja. Hm..saat bertemu kedua kalinya, kami sudah jauh lebih besar dan malu-malu kucing. Walhasil sama sekali tak ada obrolan di antara kami. Yeah, walau pada dasarnya memang ku orangnya sangat pendiam, entah bagaimana Kiki.Kami benar-benar hanya bertemu saat lebaran. Itu pun dy hanya muncul sekilas saja untuk bersalaman. Walau sebenarnya ku mengharap dy mau ngobrol lama dalam setiap pertemuan keluarga. Bahkan saat masuk SMA, ku diberi tahu bahwa ia masuk ke STM di Kota. Haha, kadang ku berharap mbok sekali-kali dy datang ke rumah gitu. Kan deket. Hehe..yah, entah mauku apa, toh ku juga berpikir walo saat itu kami memiliki hub.darah.,gapapa lah kalo pengen deket. Namanya juga saudara..

Jogja, Mei 2010..

Saat itu ku sedang menonton film di laptopku. Sambil berpikir, duh tugas-tugasku masih banyak… Tiba-tiba ku mendengar bunyi kresek-kresek..krak…weh, perasaanku nggak enak. Kucari-cari ternyata ada yang jatuh dari atap. Cuma kerikil-kerikil halus sih.. Tapi perasaanku jadi nggak enak. Ku terdiam beberapa saat, lalu mulai nonton lagi. Tiba-tiba hapeku berbunyi. Ternyata sms dari ibuku. Kupikir isinya apa jadi sejenak kuabaikan. Lalu saat ingat, ku baca smsnya..mengabarkan bahwa Kiki meninggal kecelakaan.

Saat itu entah bagaimana waktu seperti berhenti bagiku, dan kenangan tahun 1997 itu bagai film yang diputar kembali di kepalaku.. Semalaman ku menangis sampai mataku bengkaki. Bahkan sampai-sampai ku bermimpi bertemu dengan Kiki (Padahal seumur-umur g ada ceritanya dy masuk ke mimpiku). Dalam mimpiku aku berjalan-jalan dengannya, lalu entah bagaimana (agak kabur ingatanku) seolah dia mau pergi, tapi aku mencari dan bertanya, “Kamu di mana Ki?”. Dy menjawab, “Ini lo di sini.”

Untuk saudaraku Rizki Hublart, selamat jalan..semoga amal ibadahmu diterima dan jiwamu tenang di sisiNYA..

Sekali lagi, ku minta maaf, tak sempat mengenalmu lebih dekat. Bahkan bagaimana perawakanmu sekarang ku tak tahu Ki..Kupikir masih banyak waktu untuk bisa lebih sering bertemu denganmu. Kupikir masih ada waktu untuk saling memamerkan anak cucu kita.. Kenangan tahun 1997 itu tak akan
kulupakan…Bagaimanapun, apapun, kau tetap saudaraku, Ki…

3 thoughts on “Saat itu…

  1. ya moga Rizki Hublart di terima amalnya oleh Allah swt. aq belom sempat minta maaf k dia. aq temannya rizki waktu SMP dulu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s