RSBI, Penguasaan Bahasa Inggris Tidaklah Terlalu Penting dalam Memajukan Suatu Negara

by Novia Eka Wiandani on Wednesday, 27 July 2011 at 16:40

Ketika rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI) diperbincangkan, penekanan utama yang kerap ditonjolkan adalah penggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar di RSBI. Para pengusung ide RSBI berkeinginan para lulusan sekolah ini akan fasih berbahasa Inggris, sebagaimana mereka yang sekolah di luar negeri. Seakan-akan hendak mengatakan bahwa dengan bisa berbahasa Inggris maka pelajar akan menjadi maju di berbagai bidang pelajaran. Benarkah demikian?

Memang betul bahwa mayoritas penduduk Indonesia masih rendah dalam kemampuan berbicara dalam bahasa Inggris. Bahkan para lulusan universitas saja masih sedikit yang dapat mencapai nilai TOEFL 550, nilai yang dianggap seseorang terkualifikasi berbahasa Inggris dengan lancar. Fakta ini tentu saja akan pararel dengan kemampuan guru-guru lulusan IKIP, yang memang diarahkan untuk mengajar murid-murid sekolah, baik sekolah umum atau RSBI.

Jika guru-guru di RSBI saja tidak memiliki kemampuan bercakap dalam bahasa Inggris yang baik, lalu bagaimana para murid sekolah di RSBI akan menjadi pintar di berbagai bidang pelajaran, jika materi pelajaran tidak disampaikan dengan baik dan benar.

Penekanan terpenting dari suatu pendidikan untuk menghasilkan murid yang berkualitas bukanlah pada kemampuan bahasa Inggris, tetapi kepada cara penyampaian materi pelajaran itu sendiri. Banyak salah kaprah di masyarakat Indonesia yang berpikir kerena rendahnya kemampuan dalam bahasa Inggris menjadi alasan rendahnya tingkat persaingan orang Indonesia di dunia internasional.

Kenyataannya bahasa Inggris bukanlah menjadi faktor utama dalam persaingan dunia internasional. Kita bisa lihat bahwa banyak negara yang juga tingkat penguasaan bahasa Inggrisnya rendah. Ambil contoh di Asia, Jepang misalnya dan di Eropa, Perancis. Dua negara ini menjadi contoh bagaimana mereka sangat bangga dengan bahasa ibu yang dimilikinya, namun tetap dapat bersaing di dunia internasional, bahkan menjadi yang terutama dalam bidang-bidang tertentu.

Hal yang unik juga terlihat di Kanada sehinga menjadi contoh nyata bahwa rendahnya kemampuan bahasa Inggris seseorang (atau suatu wilayah) tidak pararel dengan kemampuan tingkat persaingan orang tersebut di bidang lain. Di Kanada terdapat propinsi yang karena faktor sejarah menggunakan bahasa Perancis, yakni Quebec, yang terletak di tengah-tengah propinsi lain yang berbahasa Inggris. Apakah ini artinya orang-orang Quebec menjadi tertinggal?. Sebaliknya, malah industri pesawat dan angkasa luar, industri kendaraan dan transportasi umum, teknologi informasi dan komunikasi, industri farmasi, bioteknologi serta industri film dan seni mayoritas berasal dari propinsi ini.

(cat: bahasa Perancis di propinsi Quebec berbeda dengan bahasa Perancis di Eropa. Bahasa Perancis-Quebec cenderung dianggap tertinggal atau “rusak” oleh orang Perancis asli)

Sebaliknya, fakta juga menunjukkan bahwa ada banyak negara-negara yang menggunakan bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari tetapi tidak memiliki prestasi menonjol di dunia internasional. Ambil saja negara tetangga kita Papua New Guinea (PNG), dan negara-negara di Samudera Pasifik seperti Solomon Islands, Fiji, dan Vanuatu yang kerap disebut sebagai negara gagal (failure state). Juga negara-negara Afrika bekas jajahan Inggris seperi Zimbabwe, Malawi, Zambia, Sierra Leone, Uganda, Nigeria, dll. Sementara untuk di benua Amerika contohnya Guyana dan di benua Asia, Maladewa dan Bangladesh.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa penguasaan bahasa Inggris tidak menjadi dasar bagi majunya seseorang, tetapi yang terutama adalah cara menyampaikan materi pelajaran dan sistem pendidikan itu sendiri yang lebih penting dipikirkan. Dalam kaitan ini, tentu saja pelajaran matematika, kimia, sosial dan budaya, seni, biologi dll akan sangat mudah dimengerti anak-anak jika disampaikan dalam bahasa ibu, bahasa Indonesia.

Akhir kata, ini tidak berarti dengan demikian kita dapat mengabaikan bahasa Inggris dalam pendidikan anak-anak. Akan tetapi yang hendak disampaikan adalah sebaiknya bahasa Inggris tetap sebagai suatu mata pelajaran sebagaimana mata pelajaran lainnya. Tinggal yang diperbaiki metoda penyampaian pelajaran bahasa Inggris tersebut, misalnya dengan mengundang native speaker, pengajaran diberikan sejak usia dini, jumlah jam pelajaran ditingkatkan dibanding sekolah-sekolah yang umumnya saat ini hanya sekitar 4-8 jam/minggu, serta lebih mengedepankan cara belajar yang interaktif (dua arah).

Ditulis oleh Winbert Hutahaean

Diplomat Indonesia yang saat ini tinggal di Toronto, Canada, bekerja di KJRI Toronto.

Lulusan Sekolah Diplomatik Deplu, angkatan 24 (1998). Meraih gelar Master of Arts (MA) untuk jurusan International Relations dari University of Wollongong, Australia. Lulusan Hubungan Internasional,

FISIP dari Universitas Parahyangan, angkatan ’89 (the Eightyniners). Masuk Sastra Perancis, Universitas Padjadjaran, angkatan ’90. Besar di Bandung, mengikuti pendidikan di SMPN 5, Jl Jawa dan SMAN 5, Jl Belitung Bandung.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s