di kereta api dan bapak genetika

by Novia Eka Wiandani on Saturday, 24 October 2009 at 17:52

Suatu saat seperti biasa aku sedang berada di dalam Kereta api Logawa jurusan Probolinggo-Yogyakarta. Saat itu aku baru saja pulang dari libur panjang akhir tahun ajaran 2008-2009. Tentu saja untuk membunuh waktu aku sudah menyiapkan buku bacaan tebel, The Cell, karangan Stephen King. Dari pagi sampai siang aku tenggelam dalam buku itu. Ceritanya lumayan, tapi mirip dengan film 28 Days Later ato 28 Weeks Later, kalau temen-temen udah liat sih. Buku itu tentang bumi yang diambang kiamat karena ada “gelombang” yang bagaikan virus menyebar melalui ponsel dan menyebabkan manusia menjadi gila dan saling membunuh…

Kemudian kurang lebih ketika sudah melewati perbatasan Jawa Timur-Jawa Tengah, tiba-tiba bapak-bapak yang duduk di depanku bertanya padaku,

“Suka baca buku ya dek? Kok kayaknya bukunya bagus, judulnya apa?”

Sedikit enggan aku menunjukkan sampul buku itu sambil tersenyum padanya.

“Wih, kok ngeri bukunya. Matanya sampai merah gitu. Bagus ya?”

Dalam hati aku berpikir, benar juga sih, orang di sampul buku itu bermata merah berkilat-kilat.

“Boleh pinjam bukunya dek?”

Sekali lagi dengan sedikit enggan aku menyodorkan bukuku padanya. Tentu saja setelah menandai halaman yang sedang kubaca.

Lalu bapak itu mulai membaca, tapi hanya membaca ringkasannya di halaman belakang. Kemudian sepertinya setelah selesai, buku itu dikembalikan padaku.

“Wah sukanya cerita yang seperti itu ya? Buku yang lainnya tidak suka?”

Lalu aku menjawab bahwa saya suka segala macam buku, entah itu cerita anak-anak atau buku religi.

“Wah hebat ya, hobi membaca buku. Sekolah atau kuliah?”

“Kuliah di mana dek?”

“Oh, di UGM, saya dulu juga tinggal di Jogja, dekat UGM sana. Sering saya main-main di sana.”

Makin sebal rasanya bapak ini mengoceh nggak jelas gitu, padahal ku pengen segera menyelesaikan buku ini. Tapi tetap kutanggapi setiap omongannya dengan senyum setengah terpaksa.

“Jurusan apa dek?”

Tentu saja aku jawab bahwa aku mahasiswa Biologi, tanpa ragu.

“Oh biologi? Wah kalau masuk biologi itu nanti kerjanya jadi apa ya?”

Aku langsung bilang pada bapak itu bahwa bidang kerja Biologi cukup luas, tergantung minat dan kemampuannya. Kalau bisa di pertanian, ya bisa ke pekerjaan apapun yang berkaitan dengan pertanian..kalau suka tentang peternakan…ya bisa….kalau mau ke bidang kesehatan..bisa ke rumah sakit atau bidang medis lainnya…atau juga murni jadi peneliti di balai penelitian…

“Wah, hebat, bisa ke medis juga ya? Wah coba saya pengen sedikit ngobrol nih tentang itu.”

Agak kaget juga aku mendengar kata-kata bapak itu. Apa yang mau ditanyakan? Sedikit juga berharap semoga tidak susah-susah…hehe

“Begini, saya sering dicurhatin oleh teman-teman dan tetangga saya. Teman saya ada yang punya anak idiot dan agak gila. Sebenarnya bukan gitu banget sih, tapi ia sedikit ketinggalan dibanding teman-temannya sehingga butuh perhatian khusus. Tapi mereka nggak pernah mau memeriksakan anaknya itu ke dokter. Menurutnya anaknya baik-baik saja kok. Padahal saya kasihan pada anak itu karena benar-benar ketinggalan oleh teman-temannya. Nah yang saya tanya, kalau dia sudah besar dan “kelihatannya” ia sudah bisa berinteraksi dengan baik, kalau dinikahkan oleh orang tuanya, bisakah kalau nanti anaknya kelak juga seperti ayahnya dek?”

Waduh, agak bingung juga ku mendengar cerita bapak itu, agak kurang jelas juga sih. Lalu kukatakan pada bapak itu, bahwa aku tidak bisa 100% memperkirakan akan seperti apa, karena aku sendiri tidak tahu persis apa penyakit yang diderita anak itu. Apakah dia autis?atau memang idiot?atau malah seperti yang dikatakan bapaknya, gila? Aku katakan saya belum mempunyai pengetahuan tentang itu dan kukatakan juga bahwa sebaiknya anak itu diperiksakan pada ahlinya. Mengenai apakah bisa menurun atau tidak, tergantung juga dari apa yang diderita oleh anak itu. Karena bisa jadi kalau penyakitnya adalah penyakit yang terpaut pada gen kelamin, sangat dimungkinkan bisa menurun. Kuberi contoh juga bahwa kasus penyakit gila sering juga terjadi pada satu keluarga, dan ternyata terbukti bahwa memang penyakit itu, tergantung jenisnya, bisa diturunkan.

“Lho, brarti kalau misalnya dia gila karena stress, apa menurun juga? Misalnya dari orang-orang tuanya sama sekali tidak ada yang sakit, apa bisa menurun?”

Whaa..bapak ini kritis juga… Lalu kukatakan sekali lagi, banyak factor yang mempengaruhi suatu penyakit. Bisa karena keturunan atau karena lingkungan. Kukatakan bahwa menurut sepengetahuanku saat itu, penyakit karena kondisi lingkungan biasanya tidak menurun karena umumnya yang menjadi sasaran adalah gen autosomal. Jadi yang sakit yang dia doang.’ Tapi bisa jadi juga,pak,’ kataku sambil tersenyum,’ kalau dalam satu lingkungan keluarga kondisinya sangat buruk, entah karena putus asa atau sebab lainnya, bisa jadi satu keluarga itu gila semua pak’.

“Lho kok bisa? Katanya nggak bisa?”

Sambil memasang wajah bodoh, kukatakan bahwa kalau kondisi emosi satu keluarga itu sama-sama g stabil dan tidak saling mendukung, emang bisa aja semua jadi gila pak. Tapi yang itu bukan menurun namanya, tapi tertular, dalam arti khusus.

“Ooo…gitu ya…”

“Kalau gini dek, kalau misal ada orang matanya biru terus nikah sama orang matanya coklat, anaknya warna apa?”

WHa, sambil senyum-senyum juga kubilang pada bapak itu kalo anaknya kemungkinan besar coklat, tapi itu tergantung.

“Lho tergantung apa lagi?”

Sambil bingung mau mengatakan dengan bahasa apa, kukatakan bahwa suatu sifat bisa menjadi dominan atu malah tertutupi satu sama lain. Kalo misal si orang tua mata coklat itu punya orang tua sama-sama coklat, berarti anaknya nanti pasti bermata coklat. Tapi kalau ternyata dia campuran juga, bbisa jadi anaknya jadi bermata biru, soalnya warna mata biru itu cenderung kalah bersaing melawan coklat.

“Ooo..gitu…saya agak bingung sih. Hehe…Eh, saya sudah sampai nih di Solo. Saya turun ya dek. Assalamu’alaikum..”

Aku menjawab salamnya sambil tersenyum. Dalam hati kukatakan, wah bapak ini asik juga. Tapi setelah kuingat-ingat, sepertinya aku pernah melihatnya….

Sesampainya di Yogya, ku langsung ke kosku. Malamnya aku bertemu bapak kosku, lalu seketika aku ingat, bapak tadi itu mirip bapak kos!!

Lalu kutanya pada bapak kos, apakah punya kakak ato adik laki-laki. Ternyata bapak kos bilang iya, sekarang kalau nggak di Surabaya ya di solo…whaa….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s